Kraksaan, Lensaupdate.com - Semangat berkarya tanpa batas ditunjukkan Grup Band Melati Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Probolinggo Raya saat menjadi narasumber dalam podcast Radio LPPL Bromo FM di Studio Radio Bromo FM, Gedung Islamic Center, Jalan Raya Rengganis Nomor 1 Kraksaan, Sabtu (4/7/2026).
Melalui podcast tersebut, para personel Band Melati berbagi kisah perjalanan mereka membangun grup musik hingga mampu tampil di berbagai panggung. Kegiatan ini menjadi ruang inspirasi sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk terus berprestasi dan berkarya.
Podcast dipandu penyiar Bromo FM, Kia, dengan menghadirkan vokalis Erfan dan gitaris Arizki. Keduanya mengisahkan perjalanan Band Melati yang berdiri sejak tahun 2014 sebagai wadah menyalurkan bakat musik bagi penyandang disabilitas tunanetra di wilayah Probolinggo Raya.
Arizki menjelaskan Band Melati lahir dari semangat kebersamaan anggota Pertuni yang memiliki minat besar terhadap musik. Berbekal tekad yang sama, mereka membentuk grup musik sebagai media berekspresi sekaligus menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya yang tidak kalah dengan musisi lainnya.
"Grup Band Melati merupakan grup musik yang beranggotakan penyandang disabilitas tunanetra dari Probolinggo Raya. Kami terbentuk pada tahun 2014 dan hingga sekarang terus berkarya melalui musik," katanya.
Menurut Arizki, nama Melati dipilih karena melambangkan kesederhanaan, keharuman dan mudah diterima masyarakat. Filosofi tersebut menjadi doa agar grup musik ini mampu membawa manfaat serta menginspirasi banyak orang, khususnya penyandang disabilitas, untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Selama lebih dari satu dekade berkarya, Band Melati tidak hanya membawakan lagu-lagu populer bernuansa akustik, tetapi juga menciptakan lagu bertema disabilitas sebagai bentuk edukasi dan penyemangat bagi sesama penyandang tunanetra.
Berbagai panggung pun telah mereka isi, di antaranya peringatan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo 2026, Hari Jadi Kota Probolinggo 2025 hingga Festival Madakaripura 2023. Penampilan dan karya mereka juga dapat dinikmati melalui kanal YouTube Pertuni Probolinggo Raya.
Sementara itu, Erfan mengungkapkan perjalanan Band Melati tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar adalah menghafal lagu karena seluruh personel tidak memiliki latar belakang pendidikan musik formal. Selain itu, pergantian personel akibat kesibukan maupun anggota yang telah meninggal dunia juga menjadi ujian tersendiri dalam mempertahankan eksistensi grup.
"Keraguan sebagian masyarakat justru menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya. Kami ingin membuktikan bahwa penyandang tunanetra juga mampu menghasilkan karya yang membanggakan," ujarnya.
Podcast ditutup dengan penampilan musik akustik dari Erfan yang membawakan lagu "Mangu" dan "Akhirnya Ku Menemukanmu". Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari tim Radio LPPL Bromo FM dan menjadi bukti kemampuan musikal para personel Band Melati.
Melalui program podcast ini, Radio LPPL Bromo FM berharap kisah perjuangan Band Melati Pertuni Probolinggo Raya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi, berani berkarya serta memandang disabilitas bukan sebagai keterbatasan, melainkan kekuatan untuk menciptakan prestasi. (nab/zid)
