Guru Tunanetra di Kabupaten Probolinggo Inspirasi Semangat Raih Mimpi


Kraksaan, Lensaupdate.com - Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang untuk meraih prestasi dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Pesan inspiratif tersebut mengemuka dalam podcast bertajuk “Merantau, Mengabdi dan Menginspirasi: Perjalanan Guru Tunanetra Menjadi ASN/P3K” yang digelar LPPL Radio Bromo FM di Studio Radio Bromo FM Kraksaan, Sabtu (6/6/2026).

Podcast yang dipandu penyiar LPPL Radio Bromo FM Veyy Veronica itu menghadirkan dua narasumber, yakni guru MAN 2 Probolinggo Ahmad Syarif dan Humas Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo Adam Pratama Putra.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Syarif membagikan kisah perjuangannya sebagai penyandang tunanetra yang merantau dari Sulawesi Selatan hingga akhirnya mengabdi sebagai tenaga pendidik di Kabupaten Probolinggo. Sejak tahun 2019, ia memilih menjalani pengabdian di Kabupaten Probolinggo setelah sebelumnya mengajar di SLB Sulawesi Selatan.

“Khusus untuk penyandang tunanetra, jangan pernah menyerah menjalani hidup. Selama kita mau berkorban, bekerja keras dan pantang putus asa, kita pasti memiliki tujuan hidup yang berarti,” ujarnya.

Menurut Syarif, pengalaman merantau telah membentuk karakter dan memperluas wawasan hidupnya. Ia meyakini bahwa setiap tantangan yang dihadapi akan memberikan pelajaran berharga untuk masa depan.

“Saya percaya Tuhan selalu menempatkan orang-orang baik di sekitar kita. Merantau memberikan banyak pengalaman baru yang sangat berharga untuk dipelajari,” katanya.

Selain menjadi guru, Syarif juga aktif menulis. Melalui bukunya berjudul Melesat Melampaui Batas, ia menceritakan perjalanan hidup sebagai penyandang tunanetra yang terus berupaya membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.

“Orang lain menghirup oksigen, saya pun menghirup oksigen yang sama. Orang lain lahir dari rahim seorang ibu, saya pun demikian. Lalu mengapa harus ada stigma normal dan tidak normal?” ungkapnya.

Sementara Adam membagikan pengalaman perjuangannya hingga berhasil menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Sebelum menjadi ASN, ia pernah bekerja sebagai tukang pijat dan aktif mengembangkan bakat bermusik sembari menempuh pendidikan.

“Perjuangan menjadi ASN tidak mudah bagi penyandang disabilitas. Namun ketika kita terus berusaha dan tidak menyerah, hasilnya akan sebanding dengan perjuangan yang telah dilakukan,” tuturnya.

Sebagai tenaga pendidik, Adam juga menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik penyandang disabilitas, khususnya dalam mengenalkan huruf Braille.

“Saya mengajarkan Braille dengan pendekatan bermain agar anak-anak merasa senang dan tidak terbebani dalam belajar,” jelasnya.

Keduanya sepakat bahwa akses pendidikan dan teknologi yang semakin berkembang telah membuka peluang lebih besar bagi penyandang disabilitas untuk belajar, bekerja dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Menutup podcast, Ahmad Syarif berpesan kepada para orang tua agar tidak membatasi potensi anak-anak penyandang tunanetra.

“Jangan pernah membatasi tunanetra karena setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing. Untuk teman-teman tunanetra, jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti berkorban dan jangan pernah putus asa,” pungkasnya. (nab/zid)