Pelatihan Jadam Sulfur di Pakuniran Perkuat Pertanian Berkelanjutan Petani


Pakuniran, Lensaupdate.com - Petani di Kecamatan Pakuniran mulai diperkenalkan penggunaan Jadam Sulfur sebagai alternatif pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang lebih ramah lingkungan. Pelatihan tersebut diikuti Paguyuban Pakuniran “Sumber Jaya” di rumah Rasyidi, Desa Sumberkembar, Kecamatan Pakuniran, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang difasilitasi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Pakuniran bersama POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petani dalam mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, khususnya menjelang musim tanam tembakau tahun 2026.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya, Ika Ratmawati menjelaskan Jadam Sulfur merupakan pestisida nabati berbahan dasar belerang yang efektif menekan serangan hama dan penyakit tanaman sekaligus lebih aman bagi lingkungan.

“Jadam Sulfur ini menjadi alternatif yang cukup baik karena biaya pembuatannya murah, bahan mudah diperoleh dan dampaknya terhadap lingkungan lebih rendah dibanding pestisida sintetis,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan praktik langsung proses pembuatan Jadam Sulfur menggunakan campuran belerang, soda api, garam krosok dan air yang diolah hingga homogen sebelum difermentasi selama 24 jam.

Koordinator BPP Pakuniran, Nasrul Halim mengatakan penerapan pertanian ramah lingkungan saat ini menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya biaya produksi pertanian dan tantangan perubahan iklim.

“Petani perlu didorong menggunakan teknologi yang lebih efisien dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. Jadam Sulfur menjadi salah satu solusi pengendalian OPT yang lebih aman bagi ekosistem pertanian,” ujarnya.

Sementara Ketua Paguyuban Pakuniran “Sumber Jaya”, Supyan mengaku pelatihan tersebut sangat membantu petani dalam mencari alternatif pengendalian hama dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Selama ini biaya pembelian pestisida cukup besar. Dengan adanya pelatihan ini, petani bisa membuat sendiri bahan pengendali hama yang lebih hemat namun tetap efektif,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, petani diharapkan mampu menerapkan sistem pengendalian hama secara mandiri dan berkelanjutan guna mendukung pengembangan pertanian sehat dan ramah lingkungan di Kabupaten Probolinggo. (ren/zid)