Perkuat Literasi Desa, Dispersip Kabupaten Probolinggo Dorong Transformasi Perpustakaan Inklusif


Kraksaan, Lensaupdate.com - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat pengembangan literasi berbasis desa melalui bimbingan teknis (bimtek) strategi pengembangan perpustakaan dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di ruang pertemuan Pustakaloka Kantor Dispersip Kabupaten Probolinggo, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 12 desa di 12 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo. Masing-masing desa mengirimkan tiga peserta yang terdiri dari unsur TP PKK kecamatan dan desa serta pengelola perpustakaan desa. Bimtek ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial.

Adapun desa yang terlibat antara lain Desa Alastengah (Paiton), Desa Sumberkare (Wonomerto), Desa Kamalkuning (Krejengan), Desa Pakuniran (Pakuniran), Desa Klenang Lor (Banyuanyar), Desa Sidopekso (Kraksaan), Desa Leces (Leces), Desa Jambangan (Besuk), Desa Dandang (Gading), Desa Curahtulis (Tongas), Desa Bulujaran Kidul (Tegalsiwalan) serta Desa Pajurangan (Gending).

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas didampingi Kepala Bidang Pengembangan Budaya Baca dan Pelestarian Pustaka Muhammad Aminullah serta pustakawan Hesthiyono Suko Adhi.

Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengatakan program ini merupakan bentuk sinergi antara Dispersip dengan TP PKK dalam pengembangan literasi berbasis inklusi sosial tahun 2026.

“TP PKK yang memiliki jaringan hingga tingkat desa diharapkan menjadi motor penggerak dalam pengelolaan perpustakaan desa, sehingga program literasi bisa berjalan optimal,” katanya.

Menurut Ulfi, bimtek SPP-TIK menjadi bekal penting bagi kader TP PKK desa dalam mengembangkan perpustakaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat.

“Perpustakaan desa harus mampu menjadi ruang belajar bersama, tempat berbagi pengetahuan serta wadah pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah desa diharapkan turut memberikan dukungan melalui pengalokasian Dana Desa untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana perpustakaan agar program berjalan maksimal.

Mengusung tema “Transformasi Perpustakaan Desa Menuju Masyarakat Sejahtera”, kegiatan ini menekankan peran perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, tidak hanya menyediakan layanan baca, tetapi juga pelatihan, bimbingan belajar hingga pengembangan usaha.

“Konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial ini mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai OPD, sektor swasta, perguruan tinggi hingga komunitas agar program yang dijalankan sesuai kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Ulfi menambahkan kerja sama dengan pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta TP PKK menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan perpustakaan desa.

“Melalui kegiatan ini kami berkomitmen meningkatkan budaya baca serta memperluas akses literasi masyarakat. Perpustakaan desa diharapkan menjadi pusat aktivitas yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (nab/zid)