DLH Kabupaten Probolinggo Perkuat Pengelolaan Lingkungan Dapur Program Makan Bergizi Gratis


Dringu, Lensaupdate.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo menggelar sosialisasi dan pembinaan pengelolaan lingkungan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di ruang PRIC Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Probolinggo, Senin (9/3/2026). Kegiatan ini menjadi langkah preventif untuk menjaga kelestarian lingkungan seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebanyak 100 peserta yang terdiri dari kepala SPPG dan mitra SPPG mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber DLH Kabupaten Probolinggo, di antaranya dari Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Bidang Pengelolaan Sampah, Bidang Penaatan Lingkungan Hidup serta UPT Laboratorium Lingkungan yang merupakan laboratorium penguji terakreditasi.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Probolinggo Ari Suciati mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada para pelaku usaha dapur SPPG dan mitra mengenai hak, kewajiban serta tanggung jawab dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2760 Tahun 2025 tentang Standar Pengelolaan Air Limbah dan Sampah SPPG.

“Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kompetensi pelaku kegiatan dalam program pengelolaan lingkungan hidup serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan,” ujarnya.

Sementara Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto menyampaikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, menurunkan angka malnutrisi, mencegah stunting serta mendorong lahirnya sumber daya manusia yang unggul.

“Program ini diharapkan memberikan dampak positif bagi kesehatan, pendidikan serta tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” katanya.

Menurut Roby, SPPG memiliki peran penting sebagai ujung tombak keberhasilan pelaksanaan program MBG. Lembaga ini bertanggung jawab memastikan makanan bergizi dapat tersalurkan kepada penerima manfaat dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.

Dalam pelaksanaannya, SPPG memiliki sejumlah tugas utama seperti memproduksi makanan dalam jumlah besar, mengelola rantai pasok bahan pangan lokal, melakukan pengawasan pemenuhan gizi dan kesehatan serta memberikan edukasi kepada siswa dan orang tua mengenai pentingnya pola makan sehat.

“Dalam upaya penyediaan MBG di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo diperkirakan dibutuhkan sekitar 170 unit SPPG. Aktivitas operasional dapur tersebut tentu akan menghasilkan sampah dan air limbah domestik yang harus dikelola dengan baik,” jelasnya.

Roby menegaskan apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan benar dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan seperti bau tidak sedap, berkembangnya lalat hingga potensi penyebaran penyakit.

“Oleh karena itu pengelolaan sampah harus dilakukan dengan benar menggunakan prinsip 3R yaitu Reduce, Reuse dan Recycle. Sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir seharusnya hanya berupa sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali,” terangnya.

Selain itu, air limbah domestik dari aktivitas dapur maupun karyawan wajib diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan agar memenuhi standar baku mutu yang berlaku.

“Jika air limbah tidak diolah dengan baik dan meresap ke tanah, hal tersebut berpotensi mencemari air tanah serta merusak ekosistem di dalamnya,” tegasnya.

Roby berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta inovasi para penanggung jawab usaha dalam pengelolaan lingkungan hidup sekaligus memperkuat kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.

“Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan sehingga implementasi pengelolaan lingkungan di lapangan dapat berjalan lebih baik,” pungkasnya. (mel/fas)