Malang, Lensaupdate.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan teknis penanggulangan stroke bagi dokter dan perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Kegiatan ini dilaksanakan secara klasikal di UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati Kampus Malang, Senin hingga Jum'at (2-6/3/2026).
Langkah strategis tersebut diambil sebagai respons atas tingginya angka kesakitan, disabilitas dan kematian akibat stroke yang kini menjadi penyebab kematian nomor tiga di dunia. Berdasarkan data BPJS Kesehatan, stroke juga termasuk penyakit katastropik dengan beban pembiayaan terbesar ketiga di Indonesia, mencapai Rp 3,23 triliun pada tahun 2022.
Pelatihan ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari satu dokter dan satu perawat dari 15 puskesmas di wilayah Kabupaten Probolinggo. Program tersebut dirancang agar tenaga medis di lini terdepan mampu melakukan deteksi dini dan penanganan stroke secara terintegrasi sesuai standar pelayanan kesehatan.
Selama lima hari, peserta mendapatkan 39 Jam Pelajaran (JPL) yang mencakup teori dan praktik. Materi yang diberikan meliputi pencegahan faktor risiko stroke, penilaian prediksi risiko menggunakan instrumen standar, penatalaksanaan stroke di tingkat FKTP, terapi medik gizi, pencegahan komplikasi pasca stroke serta sistem pencatatan dan pelaporan yang akurat.
Fasilitator yang dihadirkan berasal dari berbagai unsur, di antaranya Tim Kerja Gangguan Otak dan Kardiovaskular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, widyaiswara Murnajati serta dokter spesialis dari organisasi profesi seperti PERDOSNI, PDGKI dan PERDOSRI.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Sri Rusminah menegaskan pentingnya peran FKTP dalam menekan angka fatalitas stroke.
“Stroke bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berdampak pada produktivitas penduduk. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan dokter dan perawat di puskesmas memiliki kompetensi yang mumpuni dalam melakukan pencegahan faktor risiko hingga tata laksana pasca stroke bagi masyarakat,” ujarnya.
Sri Rusminah berharap hasil pelatihan ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Dengan adanya tenaga kesehatan yang terlatih, diharapkan deteksi dini faktor risiko dapat dilakukan lebih masif di tingkat desa, sehingga serangan stroke dapat dicegah atau ditangani lebih cepat sebelum menimbulkan disabilitas menetap,” tambahnya.
Setelah pelatihan berakhir, para peserta diharapkan segera menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk diimplementasikan di wilayah kerja masing-masing sebagai upaya konkret memperkuat layanan kesehatan primer di Kabupaten Probolinggo. (put/zid)
