Malang, Lensaupdate.com - Sebagai langkah pengendalian penyakit tidak
menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar
pelatihan SDM Upaya Berhenti Merokok (UBM) bagi petugas kesehatan guna
meningkatkan kualitas layanan konseling di fasilitas kesehatan primer,
Senin hingga Jumat (9–13/2/2026).
Pelatihan tersebut dilaksanakan
di UPT Latkesmas Murnajati Lawang Kabupaten Malang. Kegiatan ini
diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari 15 petugas Penyakit Tidak
Menular (PTM) dan 15 petugas promosi kesehatan (promkes). Para peserta
berasal dari Dinkes Kabupaten Probolinggo serta perwakilan 33 puskesmas
yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo.
Kepala
Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala
Bidang Sumber Daya Kesehatan Sri Rusminah mengatakan pelatihan ini
bertujuan membekali tenaga kesehatan dengan kompetensi yang memadai
dalam memberikan layanan upaya berhenti merokok di fasilitas kesehatan
primer.
“Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu
melakukan berbagai peran penting, mulai dari komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE) terkait dampak konsumsi rokok bagi kesehatan hingga
memberikan konseling bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok,”
katanya.
Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan melakukan
pengukuran faktor risiko penyakit tidak menular akibat rokok, tindak
lanjut upaya berhenti merokok serta pencatatan dan pelaporan hasil
konseling secara sistematis. “Output dari kegiatan ini adalah tenaga
kesehatan yang mampu berperan sebagai konselor upaya berhenti merokok di
fasilitas pelayanan kesehatan primer,” jelasnya.
Menurut
Rusminah, upaya ini dinilai penting mengingat tingginya prevalensi
perokok di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dalam
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, jumlah perokok aktif di
Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang. Dari jumlah
tersebut, sebanyak 7,4 persen di antaranya masih berusia 10 hingga 18
tahun.
“Merokok tidak hanya berdampak buruk bagi perokok aktif,
tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya. Dalam sebatang rokok
terkandung lebih dari 4.000 jenis bahan kimia berbahaya yang dapat
memicu berbagai penyakit serius. Dampak kesehatan akibat rokok antara
lain penyakit paru-paru kronis, stroke, serangan jantung, gangguan mata
seperti katarak, kanker leher rahim hingga risiko keguguran pada ibu
hamil,” terangnya.
Dalam layanan berhenti merokok, terdapat
berbagai metode yang dapat diterapkan, baik secara farmakologi maupun
nonfarmakologi. “Untuk fasilitas pelayanan kesehatan primer, metode yang
umum digunakan adalah pendekatan nonfarmakologi seperti self help,
terapi perilaku, konseling, hipnoterapi serta akupuntur,” lanjutnya.
Melihat
kondisi tersebut, Dinkes Kabupaten Probolinggo memandang perlu adanya
penguatan layanan upaya berhenti merokok sebagai bagian dari
pengendalian konsumsi rokok. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan masyarakat diharapkan mampu memberikan edukasi dan konseling
yang efektif, baik untuk mencegah seseorang menjadi perokok maupun
membantu perokok aktif lepas dari ketergantungan.
“Melalui
pelatihan ini, diharapkan tercipta SDM kesehatan yang kompeten dan
profesional dalam mendukung program kesehatan masyarakat, khususnya
dalam menekan angka perokok dan mencegah penyakit tidak menular di
Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (put/zid)