Sukapura, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) mendorong pengembangan PAUD–SD Satu Atap sebagai strategi utama memperluas akses layanan pendidikan, khususnya di wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan sarana pendidikan.
Pendekatan PAUD–SD Satu Atap ini diproyeksikan menjadi fondasi awal penerapan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, dengan memastikan anak memperoleh layanan pendidikan sejak usia dini hingga jenjang sekolah dasar dalam satu sistem yang terintegrasi.
Upaya tersebut diperkuat melalui pertemuan lintas pemangku kepentingan yang difasilitasi Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) di SDN Sapikerep 3 Desa Sapikerep Kecamatan Sukapura, Kamis (5/2/2026). Forum ini melibatkan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Bappelitbangda, pemerintah desa, tokoh masyarakat serta instansi terkait.
District Officer INOVASI Anwar Sutranggongo menjelaskan, pengembangan PAUD–SD Satu Atap dinilai relevan untuk wilayah dengan kondisi geografis sulit dan jumlah peserta didik terbatas. Model ini memungkinkan layanan pendidikan berkesinambungan tanpa harus membangun satuan pendidikan baru secara terpisah.
“PAUD–SD Satu Atap menjadi solusi konkret agar anak-anak di wilayah terpencil tetap mendapatkan layanan pendidikan sejak usia dini hingga SD dalam satu lokasi,” ujarnya.
Menurut Anwar, pada tahap awal dua sekolah ditetapkan sebagai lokasi percontohan, yakni SDN Sapikerep 3 dan SDN Sariwani 2 Kecamatan Sukapura. Kedua sekolah tersebut dinilai siap secara kelembagaan serta memiliki pengalaman menerapkan pembelajaran kelas rangkap atau multigrade.
“Targetnya, dua sekolah piloting ini mulai berjalan pada tahun ajaran ini. Kami juga mendukung peningkatan kapasitas guru agar layanan PAUD dan SD dapat berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, integrasi PAUD dengan SD diharapkan membantu anak-anak yang selama ini langsung masuk SD tanpa pengalaman pendidikan usia dini, sehingga kesiapan belajar mereka lebih baik.
“Anak-anak menjadi terbiasa dengan rutinitas belajar, bersosialisasi dan berkomunikasi. Saat masuk SD, proses adaptasi akan jauh lebih mudah,” terangnya.
Sementara Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah menegaskan satu tahun pendidikan prasekolah merupakan fase krusial dalam perkembangan anak.
“Usia 5–6 tahun adalah masa emas perkembangan. Karena itu, PAUD yang terintegrasi dengan SD menjadi kebutuhan mendesak, terutama di daerah yang belum memiliki layanan PAUD,” katanya.
Amik menyampaikan, pelaksanaan PAUD–SD Satu Atap dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan ruang kelas yang tersedia. Disdikdaya juga memberikan dukungan berupa penyediaan Alat Permainan Edukatif (APE) untuk menunjang proses pembelajaran. “Pendidikan usia dini sangat menentukan perkembangan kognitif, sosial dan emosional anak,” imbuhnya.
Kepala SDN Sapikerep 3 Babun menyatakan kesiapan sekolahnya dalam menyelenggarakan PAUD–SD Satu Atap. Selain memiliki ruang kelas yang memadai, tenaga pendidik di sekolah tersebut telah berpengalaman dalam pembelajaran multigrade. “Kami siap secara teknis, namun tetap membutuhkan dukungan sarana dan prasarana agar layanan PAUD dapat berjalan maksimal,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Sapikerep. Sekretaris Desa Hendro menilai keberadaan PAUD–SD Satu Atap sangat penting untuk meningkatkan kesiapan belajar anak-anak di wilayahnya. “Selama ini banyak anak langsung masuk SD tanpa PAUD. Dengan adanya PAUD–SD Satu Atap, kesiapan belajar anak akan jauh lebih baik,” ungkapnya.
Ia berharap program tersebut mampu mengubah pola asuh masyarakat agar pendidikan usia dini menjadi prioritas. “PAUD–SD Satu Atap menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak desa,” pungkasnya. (mel/fas)