Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga, Puasa Mampu Membentuk Kepribadian Bertaqwa Secara Utuh


Kraksaan, Lensaupdate.com - Puasa yang bernilai di sisi Allah SWT bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan puasa yang mampu membentuk kepribadian bertakwa secara utuh. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo KH. Abdul Wasik Hannan.

Menurutnya, esensi puasa terletak pada kualitas pengendalian diri dan kesungguhan menjaga seluruh aspek kehidupan, mulai dari niat hingga akhlak. “Puasa yang bernilai di sisi Allah SWT adalah puasa yang menjaga niat karena Allah, bukan karena tradisi, bukan karena ingin dipuji dan bukan karena alasan duniawi lainnya,” ujarnya.

Kiai Wasik menjelaskan, menjaga niat menjadi fondasi utama dalam setiap ibadah, termasuk puasa Ramadhan. Tanpa niat yang lurus, ibadah yang dijalankan berpotensi kehilangan makna dan nilai spiritualnya. "Oleh karena itu, setiap Muslim harus terus memperbarui niat dan meluruskan tujuan ibadah semata-mata karena Allah SWT," jelasnya.

Selain menjaga niat, Kiai Wasik menekankan pentingnya menjaga shalat dan ibadah-ibadah lainnya selama bulan puasa. Puasa tidak boleh berdiri sendiri tanpa diiringi peningkatan kualitas shalat, tilawah Al-Qur’an, sedekah serta amal kebajikan lainnya.

“Jangan sampai seseorang rajin berpuasa, tetapi lalai dalam shalatnya. Puasa seharusnya menjadi energi untuk memperkuat ibadah, bukan justru melemahkannya,” tegasnya.

Lebih lanjut Kiai Wasik mengingatkan agar umat Islam menjaga lisan dari ghibah dan dusta. Dalam pandangannya, banyak orang yang secara fisik menahan makan dan minum, tetapi lisannya tetap menyakiti orang lain melalui perkataan yang tidak benar dan tidak bermanfaat.

"Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,” terangnya.

Hadis tersebut menurut Kiai Wasik, menjadi peringatan keras agar puasa tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan sosial. “Rasulullah sudah mengingatkan, jangan sampai puasa kita sia-sia karena tidak mampu menjaga lisan dan perilaku,” tambahnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Di era digital saat ini, tantangan menjaga pandangan semakin besar dengan mudahnya akses terhadap berbagai konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

“Menjaga pandangan adalah bagian dari menjaga kesucian hati. Jika pandangan tidak dijaga, maka hati akan mudah ternodai,” ungkapnya.

Tak kalah penting, Kiai Wasik mengingatkan umat Islam untuk menjaga hati dari sifat iri, sombong dan riya’. Penyakit hati dapat menggerogoti pahala ibadah tanpa disadari. Puasa sejatinya menjadi sarana membersihkan hati dan menumbuhkan keikhlasan.

“Puasa melatih kita untuk rendah hati, merasakan penderitaan orang lain serta menjauhkan diri dari kesombongan,” urainya.

Kiai Wasik menekankan puasa juga harus tercermin dalam akhlak sehari-hari. Umat Islam diminta menjaga sikap dari amarah dan berbagai bentuk keburukan lainnya.

“Puasa harus melahirkan akhlak yang lebih baik. Jika setelah berpuasa seseorang masih mudah marah, berkata kasar dan berbuat zalim, maka ia perlu mengevaluasi puasanya,” ujarnya.

Melalui momentum Ramadhan, diharapkan masyarakat Kabupaten Probolinggo mampu menjadikan puasa sebagai sarana pembinaan diri secara menyeluruh, sehingga lahir pribadi-pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. (nab/zid)