Ibnus Shabil Sabet Tiga Penghargaan Nasional Bidang Puisi dalam Tiga Bulan Terakhir


Probolinggo, Lensaupdate.com - Nama Ibnus Shabil, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang asal Kabupaten Probolinggo kembali mencuri perhatian dunia sastra tanah air. Dalam rentang waktu hanya tiga bulan terakhir, pemuda bertalenta ini sukses meraih tiga prestasi nasional sekaligus dalam bidang cipta dan baca puisi.

Tidak berlebihan jika banyak yang menyebut perjalanan kreativitas Ibnus mirip “meteor literasi”, bergerak senyap, namun memancarkan cahaya yang sulit diabaikan.

Puncak prestasi terbaru diraih pada Sabtu (8/9/2025) dalam ajang UPI Islamic Festival, National Poetry Competition di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ibnus dinobatkan sebagai juara 1 melalui puisi berjudul “Pada Suatu Subuh Nanti”, karya yang mengajak pembacanya merenungi kelalaian manusia terhadap salat Subuh, kesadaran akan kematian hingga gambaran kehancuran bila manusia terus lalai dari perintah agama.

“Puisi ini ingin mengetuk ruang paling sunyi dalam diri kita. Tentang kematian, tentang iman, tentang hal-hal yang sering kita lewatkan,” ujar Ibnus.

Prestasi serupa telah diraih sebelumnya pada Selasa (30/9/2025), ketika Ibnus kembali menjadi juara 1 Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Unit Pengembangan Intelektual UIN Sunan Ampel Surabaya. Melalui puisi ciptaan sendiri berjudul “Jubah Hitam”, ia mengangkat kembali tragedi G30S/PKI sebagai pengingat bahwa sejarah tidak boleh dibiarkan membeku.

Pada Selasa (21/10/2025), Ibnus melengkapi pencapaiannya dengan juara 3 Cipta dan Baca Puisi Festival Budaya Tingkat Nasional di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam puisi “Di Rahim Puisi”, ia menyuarakan keresahan terhadap memudarnya esensi budaya Indonesia di tengah arus globalisasi dan krisis identitas.

Tiga karya, tiga tema besar, namun satu benang merah: kepedulian yang tulus terhadap agama, bangsa dan budaya.

Bukan sekadar permainan diksi atau metafora yang elok. Ibnus menghadirkan puisi sebagai “surat waktu”, sebuah cara untuk merekam zaman, menyuarakan kebenaran, dan memotret kegelisahan yang sering kita rasakan, namun tak mampu kita ungkapkan.

Bagi Ibnus, sastra bukan hanya seni merangkai kata, melainkan cara untuk menghadirkan dialog batin antara manusia dan realitasnya. “Sastra adalah alat untuk memahami diri dan membaca kembali arah bangsa,” tuturnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengapresiasi capaian konsekuen Ibnus sebagai bukti keberhasilan pembinaan literasi di daerah.

“Prestasi Ibnus menjadi inspirasi bagi generasi muda kita. Kami di Dispersip terus berkomitmen menyediakan ruang literasi yang kondusif agar bakat-bakat besar ini terus tumbuh,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menilai keberhasilan Ibnus sebagai bukti bahwa pendidikan karakter dan literasi mampu melahirkan generasi unggul.

“Konsistensi Ibnus menunjukkan bahwa pelajar Kabupaten Probolinggo mampu berbicara di level nasional. Kami berharap hal ini memicu semangat pelajar lainnya untuk terus berkembang,” ungkapnya.

Dengan tiga prestasi nasional dalam waktu singkat, Ibnus Shabil menegaskan bahwa Kabupaten Probolinggo memiliki generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga peka terhadap persoalan bangsa.

Perjalanannya menjadi bukti bahwa puisi masih memiliki tempat terhormat sebagai cermin kehidupan dan dari tangan pemuda seperti Ibnus, sastra kembali menjadi denyut nurani zaman. (mel/fas)