Tegalsiwalan, Lensaupdate.com - Fatayat NU Kabupaten Probolinggo menunjukkan komitmen kuat dalam isu kemanusiaan dan kesehatan masyarakat dengan mengukuhkan “Deklarasi Anti Stigma HIV” bertepatan dengan peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia, Minggu (30/11/2025). Deklarasi tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Bulu Jaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan dan dihadiri sekitar 100 peserta dari 11 kecamatan.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Sofia membuka kegiatan dengan penegasan bahwa tantangan terbesar penyintas HIV bukan hanya kondisi medis, tetapi stigma sosial yang membatasi ruang hidup mereka.
“Penyintas HIV sering kali menghadapi diskriminasi, penolakan, bahkan pengucilan dari lingkungannya. Deklarasi ini menjadi sikap moral Fatayat NU untuk berdiri bersama mereka dan menolak segala bentuk stigma,” ujarnya.
Menurutnya, peluncuran deklarasi bukan sekadar simbolis, melainkan awal dari gerakan edukasi masyarakat agar penyintas HIV memperoleh perlakuan manusiawi, akses layanan kesehatan serta lingkungan sosial yang aman.
“Kita ingin masyarakat memahami bahwa HIV bukan alasan untuk menjauhi seseorang. Fatayat NU harus terus aktif turun ke lapangan menghapus ketakutan dan kesalahpahaman yang selama ini berkembang,” tambahnya.
Ketua PAC Fatayat NU Tegalsiwalan Susiani menyoroti peran strategis perempuan muda dalam kampanye anti stigma.
“Literasi kesehatan paling efektif dimulai dari keluarga. Ketika kader Fatayat teredukasi, maka ia mampu mengedukasi lingkungan sekitarnya. Dari rumah, perubahan akan meluas ke masyarakat,” jelasnya.
Materi inti disampaikan oleh aktivis pendampingan HIV/AIDS Badrut Taman yang mengungkapkan kenyataan pahit yang sering dialami penyintas seperti perundungan verbal, penolakan layanan sosial hingga dikucilkan di tempat tinggalnya.
“Penghapusan stigma harus lahir dari komunitas. Gerakan Fatayat NU hari ini sangat penting karena mengembalikan martabat penyintas sebagai manusia yang memiliki hak hidup dan dihormati,” ujarnya.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Anti Stigma HIV secara bersama-sama, sebagai seruan untuk menciptakan lingkungan sosial yang inklusif, peduli dan bebas diskriminasi.
Fatayat NU Kabupaten Probolinggo berharap peluncuran deklarasi ini dapat menjadi gerakan berkelanjutan, terutama untuk memperkuat literasi kesehatan dan dukungan komunitas di wilayah pedesaan, tempat stigma sering kali masih kuat melekat. (ren/zid)
