Krejengan, Lensaupdate.com - Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo terus menggalakkan upaya pelestarian sumber daya laut melalui pendekatan edukatif. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi penangkapan ikan ramah lingkungan di aula Ridho Outbound Desa Krejengan Kecamatan Krejengan, Kamis (18/9/2025).
Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Achmad Aruman ini diikuti oleh 60 tokoh nelayan dan ketua kelompok nelayan dari tujuh kecamatan pesisir di Kabupaten Probolinggo.
Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan teknologi GPS fishfinder yang disampaikan oleh Arif dari PT. Karya Bahari Abadi. Teknologi ini dinilai mampu membantu nelayan menemukan lokasi ikan secara akurat dan efisien, sekaligus mengurangi eksploitasi berlebihan di laut.
Selain itu, Dr. Fuad, Wakil Dekan FPIK Universitas Brawijaya memberikan paparan mengenai strategi penangkapan ikan ramah lingkungan dan penanggulangan konflik nelayan.
Suryadi, Ketua Tim Pengawasan Sumber Daya Kelautan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur menjelaskan mengenai aspek hukum yang mengatur penggunaan alat tangkap. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenai sanksi tegas sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Sementara Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Achmad Aruman menyampaikan kegiatan sosialisasi penangkapan ikan ramah lingkungan ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian laut dan meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.
“Kami ingin memberikan pemahaman yang utuh kepada para nelayan terkait prinsip-prinsip perikanan tangkap ramah lingkungan. Maksud dari kegiatan ini adalah agar para nelayan tidak hanya fokus pada hasil tangkapan, tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi tumpuan hidup mereka,” ujarnya.
Menurut Aruman, kawasan Selat Madura yang menjadi ladang utama bagi 242.646 nelayan di 13 kabupaten/kota di Jawa Timur kini tengah menghadapi tantangan serius akibat kondisi overfishing.
"Overfishing di kawasan Selat Madura telah berdampak nyata terhadap menurunnya hasil tangkapan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Jika tidak segera ditangani dengan pendekatan edukatif dan pengawasan yang ketat, konflik antar nelayan akan semakin sering terjadi," tambahnya.
Aruman juga menyoroti konflik yang kerap muncul akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti trawl dan mini trawl. Salah satunya terjadi antara nelayan lokal Kabupaten Probolinggo dengan nelayan dari daerah Pasuruan yang kerap melanggar jalur tangkap di perairan Tongas dan Sumberasih.
“Faktor penyebab utama konflik nelayan biasanya berkaitan dengan penggunaan alat tangkap ilegal, pelanggaran jalur tangkap serta perbedaan metode operasi alat. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman nelayan terhadap pentingnya penangkapan ikan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi potensi konflik horizontal di laut," jelasnya.
Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo tambah Aruman akan terus mendorong kegiatan sosialisasi dan sarasehan antar nelayan sebagai forum untuk berbagi pengetahuan, menyelesaikan konflik dan mendorong inovasi teknologi seperti penggunaan GPS fishfinder yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Kami berharap sosialisasi ini tidak hanya berhenti di sini. Ini adalah awal dari perubahan pola pikir dan pola kerja nelayan menuju sistem perikanan yang lebih berkelanjutan dan adil,” pungkasnya. (nab/zid)
