Dinkes Kabupaten Probolinggo Latih Tenaga Kesehatan Pemanfaatan Alkes Mix Safe Transport


Kraksaan, Lensaupdate.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan menggelar kegiatan uji fungsi dan pelatihan pemanfaatan alat kesehatan Infant Resusitator Blending (Mix Safe) Transport, Rabu dan Kamis (17-18/9/2025).

Kegiatan ini menyasar puskesmas-puskesmas lokus pengadaan alat kesehatan di wilayah Kabupaten Probolinggo. Dihadiri oleh tim alat kesehatan (alkes) Dinkes, penanggung jawab sarana prasarana serta tenaga medis dari berbagai Puskesmas, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Bidang Sumber Daya Kesehatan, Tim Alkes Dinkes dan PT Nusamed Mega Hastosa selaku penyedia alat.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Sri Rusminah mengatakan Mix Safe Transport merupakan perangkat bantu pernapasan portable untuk bayi baru lahir, khususnya penderita asfiksia. Alat ini berfungsi untuk memberikan oksigen secara terkontrol, mengatur PEEP (Positive End Expiratory Pressure) dan bisa digunakan untuk ventilasi tekanan positif maupun CPAP (Continuous Positive Airway Pressure).

“Keunggulannya terletak pada desain yang praktis dan mudah dibawa, sehingga sangat efektif dalam penanganan darurat, terutama pada masa krusial golden minute pasca kelahiran,” katanya.

Rusminah menekankan pentingnya pelatihan ini dalam mendukung penurunan angka kematian bayi baru lahir. “Pelayanan neonatal membutuhkan penanganan cepat dan akurat. Dengan pelatihan ini, kami ingin memastikan bahwa setiap tenaga kesehatan di Puskesmas dapat menggunakan alat ini dengan tepat dalam kondisi darurat,” terangnya.

Lebih lanjut Rusminah menjelaskan pemanfaatan alat ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Probolinggo dalam meningkatkan angka kelangsungan hidup bayi baru lahir, terutama di wilayah pelosok yang akses layanannya terbatas.

“Kami ingin seluruh lini pelayanan kesehatan, khususnya Puskesmas punya kapasitas dan alat yang sama dalam memberikan pertolongan pertama pada bayi yang mengalami gangguan napas,” tambahnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan teknis tenaga kesehatan dalam menangani kasus asfiksia neonatal. Dengan semakin terampilnya petugas, maka risiko keterlambatan penanganan bisa diminimalkan dan angka kesakitan maupun kematian bayi bisa ditekan secara signifikan.

“Dengan penyebaran alat infant resusitator di puskesmas-puskesmas strategis dan pelatihan intensif, kami berharap tidak hanya meningkatkan kualitas layanan neonatal, tetapi juga membentuk tenaga kesehatan yang lebih responsif terhadap kondisi kritis bayi baru lahir,” pungkasnya. (nab/zid)