Kraksaan, Lensaupdate.com - Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menerima kunjungan Prof. Minoru Fuji dari Universitas Tokyo, Jepang di ruang pertemuan Rengganis Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (13/8/2025) sore.
Turut mendampingi Bupati Haris, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, Kepala Bapelitbangda M. Sjaiful Efendi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agus Budianto, Kepala Dinas Perhubungan Edy Suryanto dan Kepala BPPKAD Kristiana Ruliani serta Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Kabupaten Probolinggo.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Kabupaten Probolinggo untuk mengeksplorasi teknologi terbaru dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.
Dalam diskusi intensif tersebut, dibahas solusi konkret berupa teknologi canggih asal Jepang yang mampu mengubah sampah menjadi energi, bahkan produk bernilai jual seperti bahan bakar.
Bupati Haris menggambarkan Kabupaten Probolinggo sebagai miniatur Indonesia karena kekayaan bentang alamnya yang sangat beragam mulai dari pantai, gunung, bukit hingga danau. Namun, potensi alam tersebut masih dihadapkan pada tantangan besar berupa pengelolaan sampah.
“Saya punya harapan besar untuk menyelesaikan persoalan sampah di Kabupaten Probolinggo. Jika dikelola dengan tepat, sampah tidak hanya bisa ditangani dengan efektif, tapi juga diubah menjadi sumber energi baru yang bermanfaat,” jelasnya.
Menurut Bupati Haris, teknologi yang diperkenalkan oleh Prof. Minoru Fuji dinilai sebagai langkah maju karena tidak hanya memproses sampah menjadi produk akhir, tetapi juga mengubahnya menjadi bahan bakar dan energi terbarukan.
“Teknologi ini membuka peluang besar bagi Kabupaten Probolinggo untuk menjadi daerah percontohan dalam hal pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan. Dari hasil diskusi, teknologi ini sudah sangat maju. Sampah bisa diolah menjadi bahan bakar yang bernilai ekonomi,” tegasnya.
Bupati Haris menegaskan Pemkab Probolinggo berkomitmen terhadap konsep risk waste management. Yakni pendekatan pengelolaan sampah yang memperhitungkan risiko lingkungan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kunjungan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara Kabupaten Probolinggo dan lembaga-lembaga riset internasional. Kami ingin Kabupaten Probolinggo menjadi pionir dalam penerapan teknologi ramah lingkungan yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui inovasi,” pungkasnya. (nab/zid)
