Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Bagikan Strategi Kelas Rangkap kepada Pendidik Kalimantan Selatan


Hulu Sungai Selatan, Lensaupdate.com - Pengalaman menerapkan pembelajaran kelas rangkap di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo menjadi bahan pembelajaran bagi puluhan pendidik di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Praktik tersebut dibagikan untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran berkualitas meskipun menghadapi keterbatasan tenaga pendidik, ruang kelas maupun jumlah peserta didik.

Pengalaman itu disampaikan dalam bimbingan teknis (bimtek) pembelajaran kelas rangkap yang berlangsung selama empat hari, Senin hingga Kamis (12–15/10/2026). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo mengirimkan dua narasumber, yakni Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Dikdaya Kecamatan Sukapura Nur Chabibah Umaroh dan Kepala SDN Ngadisari II Marsini Astuti.

Kegiatan yang dipusatkan di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Selatan di Kecamatan Banjarbaru Utara Kota Banjarbaru tersebut diikuti 60 kepala sekolah dan guru sekolah dasar serta dua pengawas SD dari lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Dalam bimtek tersebut, Nur Chabibah Umaroh membawakan materi tentang pola pikir bertumbuh (growth mindset). Sementara itu, Marsini Astuti memaparkan praktik baik pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap yang diterapkan di sekolah mitra program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), sebuah kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia, di wilayah Kecamatan Sukapura.

Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Sukapura Nur Chabibah Umaroh menjelaskan, pembelajaran kelas rangkap perlu dipahami sebagai salah satu alternatif untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas layanan pendidikan di tengah keterbatasan sumber daya.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap terdapat persamaan persepsi mengenai teknis pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap, mulai dari penyusunan kurikulum hingga manajemen pengelolaan pembelajaran. Dengan begitu, satuan pendidikan dapat menyusun kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sekolah masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap konsep dan strategi pembelajaran kelas rangkap menjadi modal bagi pendidik untuk mengelola kegiatan belajar secara efektif, adaptif, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Hasil pelatihan diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui penyusunan kerangka kerja di tingkat pemerintah daerah maupun satuan pendidikan.

Sementara Kepala SDN Ngadisari II Marsini Astuti menekankan bahwa pembelajaran kelas rangkap tidak cukup dilakukan dengan menempatkan peserta didik dari kelas berbeda dalam satu ruang belajar. Guru tetap perlu merancang strategi, mengatur kegiatan dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak.

“Pembelajaran kelas rangkap bukan sekadar menggabungkan kelas, tetapi bagaimana guru mampu merancang strategi pembelajaran yang terencana, kreatif dan sesuai kebutuhan peserta didik. Kami berharap praktik baik ini dapat menginspirasi guru di Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk menghadirkan pembelajaran yang efektif dan berkualitas,” ungkapnya.

Materi yang dibagikan mencakup pengelolaan pembelajaran, pemetaan kurikulum, pelaksanaan asesmen formatif, serta pengembangan lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan peserta didik. Pendekatan tersebut diharapkan membantu guru mengoptimalkan proses belajar tanpa mengabaikan perbedaan kemampuan dan karakteristik anak.

Manfaat kegiatan juga dirasakan peserta. Hartati, salah seorang guru SD di Kabupaten Hulu Sungai Selatan mengaku memperoleh wawasan baru untuk menghadapi persoalan keterbatasan jumlah guru dan ruang kelas yang dijumpai di lapangan.

“Di lapangan, kami menghadapi tantangan nyata terkait keterbatasan jumlah guru maupun ruang kelas. Melalui kegiatan ini, paradigma kami tentang pembelajaran kelas rangkap semakin terbuka. Kami mendapatkan pemahaman baru untuk mengelola pembelajaran agar tetap efektif meskipun dengan keterbatasan yang ada,” katanya.

Hartati menambahkan, bekal strategi yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan sesuai kondisi sekolah masing-masing. Ia optimistis keterbatasan geografis tidak harus menjadi penghalang untuk meningkatkan mutu pendidikan apabila guru memiliki strategi yang tepat dan komitmen untuk terus berinovasi.

Apresiasi turut disampaikan Pengawas SD Kabupaten Hulu Sungai Selatan H. Idie Zairani. Ia menilai bimtek tersebut memperluas pemahaman guru, kepala sekolah, dan pengawas mengenai penerapan pembelajaran kelas rangkap, terutama dalam pengelolaan pembelajaran di sekolah yang menghadapi keterbatasan sumber daya.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya karena guru-guru kami telah mendapatkan pelatihan kelas rangkap. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru, kepala sekolah maupun pengawas. Pemahaman kami mengenai pembelajaran kelas rangkap semakin terbuka dan mendalam,” tuturnya.

Idie berharap para peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi berkomitmen mencoba menerapkan hasil pelatihan di sekolah masing-masing dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik peserta didik.

Berbagi pengalaman antara Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas praktik pembelajaran yang adaptif. Melalui pertukaran pengetahuan antardaerah, guru diharapkan memiliki lebih banyak pilihan strategi untuk memastikan keterbatasan tenaga pendidik, ruang kelas, maupun kondisi geografis tidak mengurangi kesempatan anak memperoleh pendidikan yang bermutu. (lia/zid)