Sukapura, Lensaupdate.com - Praktik Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) atau multigrade teaching di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo mulai menarik perhatian daerah lain. Rombongan Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) dari Kalimantan Barat (Kalbar) datang langsung untuk melihat sekaligus mempelajari penerapan pembelajaran tersebut di SDN Sukapura 3 Kecamatan Sukapura, Jum'at (11/9/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan “Penguatan Praktik Pembelajaran Kelas Rangkap melalui Benchmarking dan Learning Exchange”. Rombongan dari Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara tidak hanya mengamati proses pembelajaran, tetapi juga menggali pengalaman guru dan sekolah dalam mengelola kelas dengan peserta didik dari lebih dari satu tingkat.
Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman antardaerah. Peserta KREASI mempelajari praktik yang telah berjalan di Sukapura untuk melihat bagian-bagian yang dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Rombongan KREASI Kalbar berjumlah 10 orang. Di antaranya National Project Manager KREASI Dr. Gufron Amirullah, Advisor Education KREASI Prof. Dr. Ananto Kusuma Seta, Coordinator Finance KREASI Prof. Herwina Bahar, Safeguarding Focal Point Dr. Muhammad Khoirul Huda, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara Jumadi dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang Dharma.
Kedatangan mereka disambut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono, Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Sukapura Nur Habibah Umaroh, pengawas sekolah, Kepala SDN Sukapura 3 Mujiono serta guru-guru Fase A yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap.
Kegiatan juga dihadiri tim Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Jakarta, Provincial Manager INOVASI Jawa Timur M. Adri Budi dan District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono.
Advisor Education KREASI Prof. Dr. Ananto Kusuma Seta mengapresiasi praktik pembelajaran kelas rangkap dan PAUD-SD satu atap yang telah berkembang di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kecamatan Sukapura.
Menurutnya, pengalaman tersebut memiliki relevansi dengan sejumlah wilayah di Indonesia yang menghadapi kondisi keterbatasan peserta didik, tenaga pendidikan maupun akses menuju layanan pendidikan.
“Praktik baik kelas rangkap di Kecamatan Sukapura ini layak untuk menjadi model nasional karena banyak wilayah di Indonesia memiliki sekolah dengan kondisi kekurangan siswa, tenaga pendidikan, akses yang sulit namun anak-anak tetap harus mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.
Sementara Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono mengatakan kunjungan tersebut menunjukkan adanya ketertarikan daerah lain untuk mempelajari penerapan multigrade teaching di Kabupaten Probolinggo.
“Alhamdulillah, Kabupaten Probolinggo didatangi tamu dari Kalbar, tepatnya dari Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang. Mereka sangat antusias dan ingin belajar lebih mendalam terkait penerapan multigrade teaching,” katanya.
Menurut Hary, pertukaran pengalaman tersebut bahkan berpeluang berkembang menjadi penelitian maupun studi banding. Terlebih dalam rombongan terdapat sejumlah dosen dari Universitas Muhammadiyah yang turut mendalami penerapan pembelajaran kelas rangkap.
“Kebetulan juga didampingi beberapa dosen yang mengajar di Muhammadiyah. Dalam waktu dekat mungkin akan ada penelitian atau studi banding dari dosen tersebut untuk mengkaji bagaimana penerapannya ke depan di Kalimantan Barat,” jelasnya.
Hary menyambut baik rencana tersebut. Ia berharap pengalaman pembelajaran kelas rangkap di Kabupaten Probolinggo dapat dipelajari lebih luas oleh daerah lain dengan kondisi pendidikan yang serupa.
“Insya Allah kita sambut baik karena nanti ada wacana untuk progres ke depan, sehingga multigrade teaching bisa diterapkan juga di seluruh Indonesia,” terangnya.
Ia menambahkan, penerapan multigrade teaching juga telah mendapat perhatian dalam pengembangan kebijakan pendidikan.
“Multigrade teaching sudah diakomodir oleh Tim INOVASI dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan sudah diakui. Ada multigrade teaching dan juga ada regulasinya,” tambahnya.
Selama kunjungan, rombongan terlebih dahulu mengobservasi lingkungan SDN Sukapura 3. Mereka melihat kondisi sekolah, pengelolaan ruang, sarana serta berbagai unsur yang mendukung pembelajaran kelas rangkap.
Observasi kemudian dilanjutkan dengan melihat proses pembelajaran menggunakan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Peserta mengamati bagaimana guru mengelola peserta didik dari lebih dari satu tingkat, termasuk pembagian kelompok belajar, penerapan diferensiasi, interaksi antarmurid, penguatan kemandirian serta pengelolaan waktu.
Dari proses tersebut, peserta melihat bahwa pembelajaran kelas rangkap bukan sekadar menempatkan beberapa tingkat kelas dalam satu ruangan. Guru membutuhkan perencanaan, strategi pembelajaran, pengelolaan kelompok dan kemampuan memastikan setiap peserta didik tetap mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.
Setelah observasi, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi dan diskusi hasil pengamatan sebelum rombongan mengikuti KKG Multigrade Fase A Kecamatan Sukapura.
Dalam forum tersebut, KREASI mempelajari peran komunitas guru dalam menjaga kualitas pembelajaran kelas rangkap. Pembahasan mencakup kolaborasi guru, pengembangan perangkat pembelajaran dan penguatan praktik melalui komunitas belajar.
Diskusi kemudian melibatkan Disdikdaya, Korwil, kepala sekolah, guru, tim pengembang, fasilitator daerah dan KKG. Pembahasan mencakup praktik pembelajaran, dukungan kebijakan, peningkatan kapasitas guru, tantangan implementasi serta keberlanjutan program.
Kunjungan tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi kesempatan bagi KREASI Kalbar untuk melihat praktik di Sukapura. Melalui benchmarking dan learning exchange, pengalaman tersebut menjadi bahan untuk merefleksikan praktik, memahami konteks serta menentukan bagian yang dapat diadaptasi di daerah lain.
Bagi Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, pengalaman Sukapura diharapkan menjadi referensi dalam mengembangkan pembelajaran kelas rangkap sesuai kondisi sekolah masing-masing. Sementara bagi Kabupaten Probolinggo, kunjungan tersebut menjadi kesempatan berbagi praktik baik sekaligus memperluas jejaring pembelajaran antardaerah.
Praktik di Sukapura menunjukkan bahwa keterbatasan jumlah peserta didik, tenaga pendidikan maupun akses tidak harus menjadi penghalang untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas. Dengan dukungan guru, sekolah, KKG, pengawas, Korwil, pemerintah daerah dan mitra pendidikan, pembelajaran kelas rangkap dapat dikembangkan menjadi pendekatan yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. (put/fas)
Baca Juga :
.jpeg)