Pakuniran, Lensaupdate.com - Penanganan bencana di tingkat desa tidak berhenti pada pemberian bantuan logistik. Kondisi korban, kebutuhan mendesak hingga akses menuju lokasi menjadi bagian penting yang harus dipastikan agar bantuan benar-benar dapat diterima warga terdampak.
Hal itu terlihat dalam penanganan dua kejadian berbeda di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Kamis (24/9/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo melakukan assessment sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga terdampak kebakaran kandang sapi di Desa Kertonegoro dan rumah roboh di Desa Blimbing.
Di Dusun Krajan 2, Desa Kertonegoro, kebakaran terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Kandang sapi milik Arimun terbakar setelah aktivitas pembakaran kotoran sapi. Peristiwa tersebut menyebabkan satu ekor sapi mati.
BPBD bersama Dinas Sosial (Dinsos), unsur ketenteraman dan ketertiban (Trantib) Kecamatan Pakuniran serta perangkat desa melakukan assessment terhadap kondisi di lokasi.
Sebagai penanganan awal, bantuan yang diberikan berupa terpal, alat kebersihan dan sembako. Bantuan tersebut disalurkan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan setelah kejadian.
Sementara di Dusun Krajan 1, Desa Blimbing, kejadian berbeda menimpa Bunawi. Rumahnya di RT 01/RW 01 roboh setelah diterjang angin kencang sekitar pukul 11.30 WIB.
Bangunan tersebut sebelumnya diketahui sudah dalam kondisi tidak layak huni. Kondisi itu turut menjadi faktor yang menyebabkan rumah roboh ketika diterjang angin kencang.
Untuk sementara, Bunawi tinggal di rumah keponakannya. Penyaluran bantuan dilakukan melalui rumah kepala desa karena kendaraan tidak dapat melewati akses menuju rumah korban.
Logistik yang disalurkan untuk korban rumah roboh meliputi satu selimut, satu box perlengkapan makan, satu paket sandang lansia, satu lembar terpal, satu box hygiene kit, satu box perlengkapan kebersihan, satu box lauk pauk dan satu paket sembako.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan assessment menjadi tahapan penting untuk mengetahui kondisi sekaligus kebutuhan warga setelah bencana.
“Assessment dilakukan untuk mengetahui kondisi di lapangan dan kebutuhan warga yang terdampak. Setelah itu, kami bersama unsur terkait menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan untuk membantu penanganan awal,” katanya.
Menurut Oemar, penanganan tidak dilakukan BPBD secara sendiri. Koordinasi dengan Dinsos, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa diperlukan agar bantuan dapat segera diterima warga.
“Penanganan kami lakukan bersama-sama dengan Dinsos, kecamatan dan pemerintah desa. Kondisi akses juga menjadi perhatian, sehingga bantuan untuk korban rumah roboh diserahkan melalui rumah kepala desa karena kendaraan tidak bisa masuk sampai lokasi rumah korban,” jelasnya.
Kondisi dua lokasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan respons yang menyesuaikan keadaan di lapangan. Selain kondisi kerusakan, akses menuju lokasi juga dapat menentukan bagaimana bantuan disalurkan kepada korban.
Oemar menegaskan bantuan logistik merupakan bentuk dukungan awal bagi warga terdampak. Sementara kondisi masing-masing lokasi tetap menjadi bagian dari assessment untuk menentukan kebutuhan penanganan selanjutnya.
“Kami mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, termasuk angin kencang dan aktivitas yang dapat memicu kebakaran,” tegasnya.
Dalam penanganan kedua kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Probolinggo bersama Dinsos, unsur Trantib Kecamatan Pakuniran dan perangkat desa terlibat dalam assessment serta penyaluran bantuan.
Respons tersebut sekaligus menegaskan bahwa penanganan bencana di tingkat lokal tidak hanya berbicara mengenai seberapa cepat bantuan dikirim, tetapi juga bagaimana kebutuhan korban dipetakan dan bantuan dapat menjangkau warga sesuai kondisi masing-masing lokasi. (ren/zid)
Baca Juga :
