Tim Organik Kecamatan Krucil Kembangkan Trichoderma Inovatif untuk Kendalikan Penyakit Tanaman Berkelanjutan


Krucil, Lensaupdate.com - Tim Organik Kecamatan Krucil terus memperkuat penerapan pertanian ramah lingkungan dengan mengembangkan inovasi berbasis jamur Trichoderma melalui metode metabolit sekunder dan Trichopos. 

Pengembangan tersebut dilakukan melalui pelatihan praktik di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Krucil, Rabu (1/7/2026), sebagai upaya meningkatkan kemampuan petani dalam mengendalikan penyakit tanaman secara alami sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Kegiatan yang diikuti petani anggota Tim Organik Krucil ini mendapat pendampingan dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Ika Ratmawati bersama tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Krucil.

Pelatihan tahap pertama difokuskan pada pembuatan metabolit sekunder Trichoderma yang dinilai memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan Trichoderma biasa dalam menekan perkembangan penyakit tanaman, khususnya penyakit yang berasal dari tanah.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan metabolit sekunder dibuat menggunakan media sembilan liter air cucian beras, satu liter air kelapa dan 100 gram gula pasir yang dimasak hingga mendidih. Setelah dingin, larutan dimasukkan ke dalam jeriken, ditambahkan jamur Trichoderma dan difermentasi selama tujuh hari dengan pengocokan tiga kali sehari.

“Metode metabolit sekunder menggunakan media sembilan liter air cucian beras, satu liter air kelapa dan 100 gram gula pasir akan menghasilkan molekul bioaktif berupa antibiotik, enzim, hormon dan toksin yang sangat berperan dalam mengendalikan penyakit tanaman, khususnya penyakit tular tanah,” katanya.

Menurut Ika, metabolit sekunder Trichoderma memiliki aktivitas lebih tinggi karena mengandung senyawa bioaktif yang mampu menghambat perkembangan berbagai patogen penyebab penyakit tanaman seperti Fusarium, Phytophthora serta penyakit busuk pangkal batang.

“Selain berfungsi sebagai agen hayati pengendali penyakit, Trichoderma juga membantu memperbaiki kesehatan tanah sehingga tanaman dapat tumbuh lebih optimal,” jelasnya.

Selain mempelajari metabolit sekunder, peserta juga memperoleh pelatihan pembuatan Trichopos, yaitu pupuk hayati hasil perpaduan kotoran kambing matang dengan jamur Trichoderma sp.

“Teknologi ini menjadi alternatif bagi petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis sekaligus menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan,” terangnya.

Ika menambahkan proses pembuatan Trichopos relatif sederhana. Trichoderma cukup dicampurkan secara merata ke dalam pupuk kandang matang, kemudian difermentasi selama tujuh hari hingga siap diaplikasikan di lahan.

“Penggunaannya juga mudah, cukup sekitar satu genggam pada setiap lubang tanam sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan,” tegasnya.

Koordinator PPL Kecamatan Krucil Agus Styagung mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Krucil dalam memperluas penerapan teknologi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Melalui pengembangan metabolit sekunder dan Trichopos, kami ingin mendorong petani mampu memproduksi sendiri agen hayati dan pupuk organik sehingga biaya produksi dapat ditekan, sementara kualitas lahan tetap terjaga,” ujarnya.

Menurut Agus, Kecamatan Krucil memiliki potensi bahan organik yang melimpah sehingga sangat mendukung pengembangan pupuk hayati berbasis Trichoderma.

“Harapannya petani tidak lagi bergantung pada bahan kimia sintetis, tetapi mulai beralih pada teknologi pertanian yang lebih sehat, efisien dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Salah seorang peserta pelatihan asal Desa Kalianan, Abdul Manap mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan pada lahan kopi, tomat dan cabai miliknya.

“Selama ini saya masih banyak menggunakan produk kimia sintetis yang ternyata berdampak kurang baik terhadap kondisi lahan. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya ingin mulai menerapkan metode yang lebih ramah lingkungan agar tanaman tetap sehat dan tanah menjadi lebih subur,” ungkapnya.

Melalui pelatihan tersebut, Tim Organik Kecamatan Krucil berharap para petani mampu menjadi pelopor pertanian organik di wilayah masing-masing sekaligus mempercepat penerapan sistem budidaya yang berkelanjutan, produktif dan lebih ramah terhadap lingkungan. (ren/zid)