Kraksaan, Lensaupdate.com - Serangan penyakit ker-ker akibat virus dan penyakit layu yang disebabkan jamur mulai mengancam tanaman tembakau di Desa Tamansari, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Menghadapi kondisi tersebut, petani memilih langkah ramah lingkungan dengan memanfaatkan Pupuk Organik Cair (POC), Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pestisida nabati untuk menjaga produktivitas tanaman.
Upaya ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Tamansari, Kelompok Tani Sumber Jaya, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kraksaan serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.
Sebagai tindak lanjut, para petani mengikuti pelatihan pembuatan POC, PGPR dan pestisida nabati di Balai Desa Tamansari, Senin (27/7/2026). Seluruh peserta membawa bahan baku dan peralatan sendiri agar mampu memproduksi ketiga bahan tersebut secara mandiri dan mengaplikasikannya langsung di lahan masing-masing.
Petugas POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya, Ika Ratmawati, menjelaskan penggunaan POC bertujuan meningkatkan kesuburan tanah sekaligus memperbaiki kesehatan tanaman. Sementara PGPR berfungsi sebagai biostimulan, biofertilizer dan bioprotektan yang membantu memperkuat pertumbuhan tanaman sejak awal.
Adapun pestisida nabati dimanfaatkan untuk mengendalikan populasi kutu kebul yang menjadi vektor utama penyebaran virus penyebab penyakit ker-ker pada tanaman tembakau.
"Kombinasi POC, PGPR dan pestisida nabati merupakan cara jitu untuk menyehatkan tanaman, memacu pertumbuhan serta menekan serangan hama dan penyakit. Apalagi kondisi lahan di wilayah ini tergolong asam sehingga perlu ditingkatkan kandungan unsur organiknya," ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan bahan organik tidak hanya membantu mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman, tetapi juga memperbaiki struktur dan kesuburan tanah sehingga tanaman memiliki daya tahan lebih baik terhadap penyakit.
Koordinator BPP Kecamatan Kraksaan Abd Rasyid mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap meningkatnya ancaman penyakit pada tanaman tembakau di Desa Tamansari.
"Ini merupakan bagian dari gerak cepat BPP Kraksaan bersama Poktan dan Pemerintah Desa Tamansari agar petani mampu membuat sendiri POC, PGPR dan pestisida nabati sebagai solusi menghadapi serangan penyakit di lapangan," katanya.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh petani tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi terus diterapkan secara berkelanjutan. Selain lebih hemat biaya, penggunaan bahan organik juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sintetis.
Pemerintah Desa Tamansari turut memberikan dukungan penuh terhadap upaya tersebut. Kepala Desa Tamansari Hosni melalui Sekretaris Desa Abdul Hadi mendorong balai desa menjadi pusat pembelajaran dan diskusi bagi petani dalam menghadapi berbagai persoalan pertanian, termasuk ancaman penyakit tanaman.
Sementara Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Tamansari Ali Usman mengingatkan pentingnya penggunaan bibit sehat sebagai langkah pencegahan sejak awal musim tanam. Menurutnya, bibit yang tidak jelas asal-usulnya berpotensi membawa virus penyebab penyakit ker-ker.
"Bibit yang diperoleh jangan asal-asalan. Kalau menggunakan benih sendiri harus melalui perlakuan sesuai standar agar menghasilkan bibit unggul, berasal dari daerah yang bebas virus serta menghindari penyebaran kutu kebul sebagai vektor pembawa virus," jelasnya.
Selain pengendalian hama dan penyakit, penggunaan bibit berkualitas menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas tanaman tembakau. Dengan bibit sehat, risiko penyebaran virus dapat ditekan sejak awal sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.
Melalui kolaborasi antara petani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan tenaga teknis dari BBPPTP Surabaya, upaya pengendalian penyakit tembakau Probolinggo diharapkan semakin efektif. Pendekatan berbasis POC, PGPR dan pestisida nabati tidak hanya membantu mengatasi serangan ker-ker dan layu tembakau, tetapi juga mendukung budidaya yang lebih ramah lingkungan serta menjaga hasil panen petani di Kabupaten Probolinggo. (nab/zid)
.jpeg)