Pajarakan, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bersama Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mematangkan langkah mitigasi menjelang rehabilitasi Jembatan Pajarakan di ruas nasional KM SBY 119+320. Berbagai skenario disiapkan untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat selama proyek berlangsung.
Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi (rakor) dan sosialisasi perbaikan Jembatan Pajarakan yang digelar di Kantor Kecamatan Pajarakan, Rabu (8/7/2026).
Rapat dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi didampingi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Jawa Timur Wahyu Wibowo serta Kasat Lantas Polres Probolinggo AKP Ali Rifki Mubarok. Hadir pula Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Probolinggo Edy Suryanto, Camat Pajarakan Sudarmono, Forkopimka Pajarakan, perwakilan perangkat daerah terkait, pemerintah desa serta pihak pelaksana proyek.
Dalam rapat tersebut, sejumlah usulan mengemuka untuk meminimalkan dampak perbaikan jembatan terhadap arus lalu lintas. Di antaranya pembangunan jembatan sementara (Bailey Bridge) di sisi selatan jembatan, pembukaan kembali ruas Tol Kraksaan sebagai jalur pendukung, pemasangan rambu-rambu pengalihan arus hingga pembatasan penggunaan jalan desa sebagai jalur alternatif.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi mengatakan rehabilitasi Jembatan Pajarakan merupakan program Kementerian PU yang dijadwalkan mulai awal Agustus 2026 dengan estimasi pekerjaan selama sekitar dua setengah bulan.
"Perbaikan Jembatan Pajarakan memang sudah menjadi program Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Insya Allah akan mulai dikerjakan pada awal Agustus 2026 selama sekitar dua setengah bulan. Karena itu, selain proses pembangunannya, kita juga harus memikirkan mitigasi agar arus lalu lintas tetap bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya.
Menurut Sjaiful, Pemkab Probolinggo mengusulkan percepatan koordinasi dengan pengelola jalan tol agar ruas Tol Kraksaan dapat difungsikan sementara selama rehabilitasi berlangsung. Pemerintah daerah juga mendorong pembangunan Bailey Bridge agar akses masyarakat tetap terjaga.
"Kami mendorong agar Kementerian PU dan pihak pelaksana proyek melakukan koordinasi di tingkat pusat dengan PT KAI sehingga penggunaan lahan untuk pembangunan jembatan Bailey bisa segera disepakati. Harapan kami, pembangunan jembatan sementara dilakukan lebih dulu atau setidaknya berjalan bersamaan dengan pembongkaran jembatan utama," jelasnya.
Sjaiful menegaskan penggunaan jalan desa maupun jalan kabupaten sebagai jalur alternatif harus dibatasi untuk menghindari kerusakan infrastruktur. Kendaraan berat diusulkan dialihkan melalui jalur Lumajang, sedangkan Bailey Bridge nantinya hanya diperuntukkan bagi kendaraan ringan dengan kapasitas maksimal sekitar 8 hingga 10 ton.
"Kami ingin meminimalkan penggunaan jalan desa maupun jalan kabupaten sebagai jalur alternatif karena berpotensi merusak infrastruktur. Kendaraan berat sebaiknya dialihkan melalui jalur Lumajang, sedangkan jembatan Bailey nantinya hanya diperuntukkan bagi kendaraan kecil dengan kapasitas maksimal sekitar 8 hingga 10 ton," tegasnya.
Sementara PPK 1.1 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Jawa Timur Wahyu Wibowo memastikan pelaksanaan rehabilitasi tetap memperhatikan kebutuhan akses masyarakat selama pekerjaan berlangsung.
"Terkait Jembatan Pajarakan, memang ada permintaan agar akses masyarakat sekitar tetap tersedia. Kami akan berkoordinasi dengan pimpinan dan pihak terkait mengenai kemungkinan pembangunan jembatan Bailey di sisi selatan, sehingga masyarakat tetap bisa beraktivitas meskipun ada sedikit keterbatasan selama proses pekerjaan berlangsung," ujarnya.
Wibowo menambahkan rehabilitasi diperkirakan berlangsung sekitar dua setengah bulan dengan jadwal pelaksanaan menyesuaikan kesiapan teknis di lapangan. Pekerjaan tersebut hanya berupa rehabilitasi sehingga dimensi utama jembatan tidak mengalami perubahan.
"Konstruksinya tetap menggunakan rangka baja dengan bagian atas berupa beton. Ini merupakan pekerjaan rehabilitasi atau perbaikan, sehingga dimensi utama jembatan tetap sama dan tidak mengalami perubahan," pungkasnya. (nab/zid)
