Probolinggo, Lensaupdate.com - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Probolinggo mendampingi Kementerian Sosial (Kemensos) RI dalam asesmen usaha Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) sebagai upaya memastikan keberlanjutan usaha pasca pelatihan, Senin (2/2/2026).
Kegiatan asesmen ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi KPM dalam menjalankan usaha, sekaligus mencari solusi agar usaha yang dijalankan dapat berkembang lebih optimal dan berkelanjutan.
Sebelumnya diketahui, terdapat 200 KPM yang telah mengikuti pelatihan dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPKS) Yogyakarta. Mereka tersebar di Kecamatan Leces sebanyak 100 KPM dan Kecamatan Wonomerto sebanyak 100 KPM dengan jenis usaha berupa handcraft pemintalan pelepah pisang.
Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo Rachmad Hidayanto melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Ninuk Fris Handayani menyampaikan Dinsos Kabupaten Probolinggo terus bersinergi dengan Kemensos RI dalam mendukung program-program pemberdayaan masyarakat.
“Kami mendukung sepenuhnya program yang diprakarsai oleh Kementerian Sosial bagi warga Kabupaten Probolinggo, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan sosial ekonomi, seperti kegiatan handcraft ini,” katanya.
Ninuk menjelaskan, pasca pelatihan masih ditemukan sejumlah kendala di lapangan. Dari 200 KPM yang telah dilatih, baru 7 KPM yang aktif dan telah menghasilkan produk, sementara sisanya masih belum aktif.
“Dari 200 KPM yang dilatih, hanya 7 KPM yang sudah aktif dan menghasilkan bahan pelepah pisang yang telah dipintal dan akan dikoordinasikan dengan SCR. Sementara 193 KPM lainnya akan menjadi tindak lanjut pembinaan lebih lanjut,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Niken Ayu selaku perwakilan Kementerian Sosial RI didampingi Amar dari Badan Kerja Sama dan Pembangunan Internasional Turki (TIKA) serta Wagi’an dari Hangestry Handcraft Gunung Kidul Yogyakarta turun langsung melihat aktivitas handcraft yang dilakukan KPM.
Wagi’an menyampaikan asesmen ini dilakukan untuk menemukan solusi atas kendala yang muncul setelah pelatihan.
“KPM ini sudah kami latih, namun dalam praktik di lapangan tentu ada kendala. Kami hadir untuk mencarikan solusi terbaik. Salah satu kebutuhan yang kami lihat adalah alat pengering gedebog sebagai bahan dasar untuk mengurangi kadar air serta timbangan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk motivasi kepada KPM, Wagi’an juga menyampaikan hasil pemintalan yang dihasilkan peserta akan dibawa ke Yogyakarta.
“Hasil pemintalan dari masing-masing KPM kami borong semuanya sebagai bentuk motivasi agar mereka terus semangat menjalankan usaha,” pungkasnya. (mel/fas)