Sebanyak sekitar 40 penyandang disabilitas dari empat organisasi hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Persatuan Penyandang Daksa Kabupaten Probolinggo (PDKP), Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) serta Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis) Kabupaten Probolinggo.
Ketua DPC Pertuni Kabupaten Probolinggo Moh. Ansori menjelaskan, kegiatan ini berawal dari perhatian Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris terhadap keterlibatan aktif penyandang disabilitas dalam kegiatan jalan sehat beberapa waktu lalu.
“Waktu itu teman-teman disabilitas dilibatkan dalam jalan sehat. Bupati melihat langsung semangat dan potensi yang luar biasa. Dari situ Beliau memberikan hadiah seekor kambing yang kemudian kami jadikan sarana berkumpul dan bersilaturahmi lintas organisasi disabilitas,” ungkapnya.
Menurut Ansori, peringatan Isra’ Mi’raj kali ini tidak hanya bermakna religius, tetapi juga menjadi ruang dialog bersama antar komunitas disabilitas yang selama ini bergerak secara terpisah.
“Selama ini teman-teman disabilitas jarang duduk bersama dalam satu forum. Padahal kita memiliki kebutuhan, tantangan dan gagasan yang hampir sama. Dari sinilah muncul kesadaran pentingnya wadah bersama,” jelasnya.
Melalui diskusi yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan, seluruh perwakilan organisasi disabilitas sepakat membentuk Forum Disabilitas Kabupaten Probolinggo. Forum ini direncanakan menggelar pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali sebagai ruang penyampaian aspirasi dan penguatan solidaritas.
“Kalau kita bergerak sendiri-sendiri tentu berat. Tapi dengan forum ini, Insya Allah suara disabilitas akan lebih kuat dan terorganisir,” tegas Ansori.
Ia menambahkan, pembentukan forum tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Daerah tentang Disabilitas yang mengharuskan adanya forum disabilitas serta Peraturan Bupati sebagai aturan pelaksana di tingkat daerah.
“Dalam perda sudah jelas, pemerintah daerah diminta memfasilitasi forum disabilitas. Kami dari teman-teman disabilitas memulai lebih dulu. Tinggal bagaimana pemerintah merespons dan menindaklanjutinya,” ujarnya.
Hasil pertemuan ini rencananya akan disampaikan langsung kepada Bupati Probolinggo untuk meminta arahan dan dukungan kebijakan ke depan. Selain itu, forum disabilitas juga akan melakukan pendataan penyandang disabilitas secara terpadu dengan melibatkan OPD terkait.
“Data ini penting agar kebijakan yang dibuat benar-benar sesuai kebutuhan riil penyandang disabilitas. Tanpa data yang kuat, program sering kali tidak tepat sasaran,” lanjutnya.
Ansori berharap forum disabilitas dapat menjadi wadah resmi yang melibatkan pemerintah daerah sehingga aspirasi penyandang disabilitas dapat tersampaikan secara langsung, terstruktur dan berkelanjutan.
“Momentum Isra’ Mi’raj ini kami jadikan titik awal untuk bersatu. Harapannya Kabupaten Probolinggo benar-benar menjadi daerah yang inklusif, di mana semua ragam disabilitas mendapat ruang dan perhatian yang adil,” pungkasnya. (nab/zid)
