Jiwitan Si Manis, Inovasi Kecamatan Maron Tekan Stunting Berbasis Gotong Royong


Maron, Lensaupdate.com - Upaya menekan angka prevalensi stunting di Kabupaten Probolinggo terus dilakukan melalui berbagai inovasi berbasis kearifan lokal. Salah satunya diwujudkan oleh Pemerintah Kecamatan Maron dengan meluncurkan gerakan sosial bertajuk “Jiwitan Si Manis”, sebuah inovasi yang mengedepankan semangat gotong royong Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam membantu pemenuhan gizi keluarga sasaran stunting.

Gerakan “Jiwitan Si Manis” lahir sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor antara pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, pendamping sosial serta pemerintah desa. Sinergi tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting bukan semata tanggung jawab satu institusi, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Camat Maron Nurhafiva menjelaskan, inovasi ini selaras dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), khususnya dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui percepatan penurunan stunting.

“Gerakan ini berangkat dari empati dan kepedulian ASN Kecamatan Maron terhadap persoalan stunting di masyarakat. Kami ingin berkontribusi nyata, tidak hanya melalui program formal pemerintah, tetapi juga lewat gerakan moral yang menyentuh langsung masyarakat,” ungkap Nurhafiva.

Menurutnya, Gerakan “Jiwitan Si Manis” terinspirasi dari budaya lokal jimpitan, tradisi gotong royong masyarakat Jawa yang dilakukan secara sukarela demi kepentingan bersama. Nilai budaya tersebut kemudian diadaptasi oleh ASN Kecamatan Maron dengan menyisihkan sebagian rezeki secara rutin untuk membantu keluarga dengan anak stunting yang berasal dari kelompok ekonomi rentan.

“Setiap ASN secara sukarela menyumbangkan sebagian rezekinya. Donasi dikumpulkan dalam kaleng khusus yang ditempatkan di setiap ruangan kantor. Hasilnya kemudian disalurkan kepada keluarga sasaran stunting yang paling membutuhkan,” jelasnya.

Nurhafiva menambahkan, pengumpulan dan penyaluran donasi dilakukan secara rutin setiap bulan, tepatnya pada momentum Jum’at Manis. Penentuan penerima manfaat dilakukan secara selektif melalui koordinasi dengan Puskesmas, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), bidan desa serta kader posyandu.

“Dengan koordinasi lintas sektor ini, kami memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan benar-benar berdampak pada pemenuhan gizi anak,” imbuhnya.

Sebagai langkah awal penguatan program, Pemerintah Kecamatan Maron telah membentuk Tim Penyusun Gagasan Inovasi melalui Keputusan Camat Maron. Tim ini bertugas menyusun mekanisme pelaksanaan, menjaga transparansi pengelolaan donasi, serta mengawal keberlanjutan Gerakan “Jiwitan Si Manis”.

Nurhafiva mengakui, kontribusi gerakan ini mungkin tidak secara instan menurunkan angka stunting dalam skala besar. Namun, setiap upaya kecil diyakini memiliki nilai strategis dalam mendukung program percepatan penurunan stunting secara menyeluruh.

“Mungkin dampaknya tidak langsung signifikan, tetapi sekecil apa pun peluang untuk membantu penurunan stunting akan kami lakukan dan maksimalkan. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial kami sebagai ASN,” tegasnya.

Melalui Gerakan “Jiwitan Si Manis”, Pemerintah Kecamatan Maron berharap tumbuh kesadaran kolektif, solidaritas sosial, serta budaya saling peduli di tengah masyarakat. Dengan demikian, penanganan stunting tidak hanya bersifat programatis, tetapi juga berkelanjutan dan menyentuh langsung keluarga yang membutuhkan. (ren/zid)