Sukapura, Lensaupdate.com - Model sekolah multigrade atau kelas rangkap yang diterapkan di wilayah pegunungan Kabupaten Probolinggo dinilai berhasil menjawab tantangan keterbatasan siswa dan guru, sehingga menjadi rujukan studi tiru daerah lain.
Hal tersebut tercermin dari kunjungan studi tiru Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ke SDN Sukapura 3 Kecamatan Sukapura, Selasa (23/12/2025).
Kunjungan ini bertujuan mempelajari secara langsung pengelolaan pembelajaran multigrade yang telah diterapkan secara konsisten di Kabupaten Probolinggo, khususnya di sekolah-sekolah kecil dengan jumlah peserta didik terbatas. Rombongan tiba sekitar pukul 08.30 WIB dan langsung melakukan observasi lingkungan sekolah serta ruang kelas.
Sekolah multigrade merupakan model pembelajaran di mana satu guru mengajar lebih dari satu tingkat kelas dalam satu ruang belajar. Model ini dinilai efektif untuk wilayah dengan kondisi geografis sulit, keterbatasan tenaga pendidik serta jumlah murid yang tidak mencukupi untuk kelas tunggal.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan BPMP Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan HST meninjau ruang kelas fase A (kelas 1 dan 2), fase B hingga fase C. Mereka berdialog langsung dengan guru mengenai penataan ruang, perencanaan pembelajaran hingga strategi pengelolaan kelas rangkap yang adaptif terhadap kebutuhan siswa.
Meski kegiatan berlangsung saat masa libur sekolah sehingga proses belajar mengajar tidak dapat disaksikan secara langsung, para tamu tetap mendapatkan gambaran komprehensif melalui paparan guru serta dokumentasi pembelajaran yang telah berjalan.
Diskusi kemudian dilanjutkan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, pengawas sekolah, kepala sekolah serta guru-guru pelaksana pembelajaran multigrade di Kecamatan Sukapura.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Sri Agus Indariyati menyampaikan pengembangan sekolah multigrade merupakan solusi strategis atas realitas pendidikan di wilayah pegunungan.
“Di Kecamatan Sukapura terdapat 20 SD dan sekitar separuhnya memiliki jumlah siswa di bawah 60 orang. Saat ini ada 9 sekolah multigrade di Kecamatan Sukapura dan secara keseluruhan terdapat 185 sekolah multigrade di Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.
Menurut Sri Agus, praktik sekolah multigrade di Kabupaten Probolinggo telah dirintis sejak 2018 melalui pendampingan Program INOVASI. Seiring berjalannya waktu, model ini tidak hanya menjaga keberlangsungan sekolah kecil, tetapi juga mampu meningkatkan mutu pembelajaran.
“Beberapa sekolah multigrade berhasil meraih BOS Kinerja berkat kreativitas guru, kepemimpinan kepala sekolah serta budaya inovasi yang terus dibangun. Pemerintah daerah juga secara rutin mengalokasikan anggaran untuk peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan literasi, numerasi dan pendidikan inklusif,” jelasnya.
Provincial Manager INOVASI Jawa Timur M. Adri Budi menegaskan pendekatan multigrade sejalan dengan tujuan besar pemerataan layanan pendidikan. “Sekolah kecil tetap berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu. Praktik baik di Kabupaten Probolinggo membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi,” ujarnya.
Sementara perwakilan BPMP Kalimantan Selatan Mauluddin menilai pembelajaran kelas rangkap memiliki landasan kebijakan yang semakin kuat, terutama dalam kerangka kurikulum yang menekankan pengembangan kompetensi peserta didik secara bertahap.
“Kami mendorong Kabupaten Hulu Sungai Tengah menjadi pintu masuk pengembangan multigrade di Kalimantan Selatan. BPMP siap mendampingi agar implementasinya berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan,” katanya.
Sedangkan perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Ruslan mengungkapkan banyak sekolah di wilayahnya mengalami penurunan jumlah peserta didik secara signifikan. Bahkan, beberapa sekolah hanya memiliki 10 hingga 13 siswa. “Pembelajaran kelas rangkap kami lihat sebagai solusi realistis untuk menjaga keberlangsungan sekolah sekaligus memberikan kepastian tugas bagi guru,” urainya.
Ia menambahkan, penerapan multigrade di HST akan dilakukan secara bertahap dengan pendampingan intensif dari BPMP serta belajar langsung dari daerah yang telah berpengalaman seperti Kabupaten Probolinggo.
Kunjungan studi tiru ini menjadi ruang berbagi praktik baik antar daerah dalam menghadapi tantangan pengelolaan sekolah kecil. Pengalaman Kabupaten Probolinggo menunjukkan bahwa sekolah multigrade bukan sekadar solusi sementara, melainkan strategi jangka panjang untuk memastikan pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan dasar di seluruh wilayah Indonesia. (mel/fas)
.jpeg)