PMI Kabupaten Probolinggo Lakukan Kajian Risiko Bencana Berbasis Masyarakat di Desa Dringu dan Kedungdalem


Dringu, Lensaupdate.com - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo melalui program kerja sama CSR PT. Paiton Energy dengan PMI menggelar kajian risiko bencana berbasis masyarakat di Desa Dringu dan Desa Kedungdalem Kecamatan Dringu. Program ini digelar sebagai upaya peningkatan kapasitas warga menghadapi ancaman bencana yang kerap terjadi di wilayah Kecamatan Dringu.

Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Dringu pada Selasa dan Rabu (18-19/11/2025) dan Balai Desa Kedungdalem pada Kamis dan Jum’at (20-21/11/2025). Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri atas 15 anggota Tim SIBAT serta 10 tokoh masyarakat, tokoh agama dan perangkat desa. Seluruh sesi difasilitasi oleh narasumber Amirul Yasin dan Muhammad Hasan dari PMI Provinsi Jawa Timur.

Sekretaris PMI Kabupaten Probolinggo Dewi Korina hadir bersama sejumlah pengurus disertai Kepala Desa Dringu dan Kepala Desa Kedungdalem sebagai bentuk dukungan pemerintah desa terhadap penguatan manajemen risiko bencana.

Pada hari pertama, peserta menerima materi pengantar mengenai konsep dasar pengurangan risiko bencana serta proses identifikasi ancaman di masing-masing desa. Hari kedua diisi dengan kegiatan analisis kerentanan dan kapasitas, penyusunan peta risiko berbasis masyarakat hingga perumusan rencana aksi sebagai langkah tindak lanjut mitigasi bencana.

Sekretaris PMI Kabupaten Probolinggo Dewi Korina menyampaikan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami dinamika risiko bencana di lingkungan mereka. Pemahaman tersebut dinilai sangat krusial, terutama bagi desa yang memiliki kerentanan cukup tinggi.

“Tujuan khusus program ini meliputi kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi ancaman, mengenali tingkat kerentanan dan kapasitas lokal, menyusun peta risiko serta merumuskan rencana aksi pengurangan risiko bencana (PRB) di tingkat desa. Kegiatan ini juga dimaksudkan memperkuat kapasitas Tim SIBAT, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemerintah desa,” katanya.

Menurut Dewi, Kecamatan Dringu, termasuk Desa Dringu dan Desa Kedungdalem memiliki potensi ancaman bencana seperti banjir, rob, angin kencang serta kebakaran permukiman. 

“Kondisi ini mendorong perlunya kajian risiko berbasis masyarakat (KRBM) sebagai dasar perencanaan pembangunan yang lebih tangguh dan adaptif. Kegiatan ini menghasilkan beberapa output strategis antara lain peta ancaman, peta kerentanan, peta kapasitas, peta risiko serta dokumen rencana aksi PRB desa,” terangnya.

Dewi menilai dokumen tersebut mendukung peningkatan kesiapsiagaan warga sekaligus memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam menanggulangi bencana. “Kami berharap hasil kajian ini dapat menjadi rujukan utama dalam penyusunan program PRB desa serta meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang,” pungkasnya. (mel/fas)