Inovasi Duta 8 Paru Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Dringu Tekan Angka ATS


Dringu, Lensaupdate.com - Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di tingkat Sekolah Dasar (SD) masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang perlu mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan data Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kecamatan Dringu pada tahun ajaran 2024/2025, dari 3.490 murid SD tercatat 42 anak masuk kategori ATS atau sekitar 1,2 persen.

Meski secara persentase terlihat kecil, angka tersebut dinilai mengkhawatirkan karena setiap anak yang putus sekolah merupakan potensi sumber daya manusia yang hilang dan dapat memengaruhi pembangunan daerah ke depan.

Menyadari pentingnya layanan pendidikan yang bermutu, pengawas dan tim peningkatan mutu Korwil Bidang Dikdaya Dringu menggagas sebuah terobosan bernama “Duta 8 Paru”. Program ini merupakan sistem monitoring dan pembinaan komprehensif terhadap layanan pendidikan yang dilakukan guru melalui delapan aspek fundamental.

Delapan aspek tersebut meliputi pembiasaan religius, perencanaan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, penilaian/asesmen, jurnal tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, komunitas belajar serta lesson study.

Pengawas Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Dringu Siti Husnul Chotimah mengatakan inovasi Duta 8 Paru lahir sebagai jawaban atas kebutuhan peningkatan layanan pendidikan yang sistematis dan terukur.

“Pengurangan ATS tidak bisa dibebankan hanya kepada guru, tetapi memerlukan pendekatan sistemik yang melibatkan seluruh elemen pendidikan. Duta 8 Paru diharapkan dapat menjadi model yang bisa diadaptasi oleh wilayah lain,” ujarnya.

Menurut Husnul, Duta 8 Paru berbasis data ATS yang telah diverifikasi, sehingga intervensi bisa dilakukan tepat sasaran. "Program ini memiliki sejumlah keunggulan dibanding pembinaan guru konvensional," lanjutnya.

Pertama, program ini bersifat komprehensif karena mencakup delapan aspek pelayanan pendidikan. Kedua, program ini berkelanjutan dengan pembinaan yang tidak berhenti pada kompetisi, melainkan dilanjutkan dengan coaching dan mentoring.

Ketiga, indikator pencapaian dibuat jelas dan bisa dievaluasi secara objektif. Keempat, program ini bersifat kolaboratif karena membangun komunitas belajar guru yang saling mendukung dan berbagi inovasi. Kelima, orientasi akhirnya adalah hasil konkret berupa peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus penurunan angka putus sekolah.

Berkat sinergi tim, Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Dringu berhasil meraih Juara 1 Anugerah Inovasi Daerah 2025 pada kategori Inovasi Bidang Pendidikan. Karya yang diusung berjudul Optimalisasi Layanan Pendidikan Bermutu melalui Duta 8 Paru untuk Mengurangi ATS di Korwil Dringu.

Program ini digerakkan oleh tim pengawas dan peningkatan mutu diantaranya Siti Husnul Chotimah, Anita Dwi Megasari dan Devi Wahyuningsih.

"Keberhasilan tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan sistem pendidikan yang mampu mengurangi ATS sekaligus meningkatkan kualitas layanan sekolah dasar," terangnya.

Husnul menerangkan Inovasi Duta 8 Paru tidak hanya berfokus pada lomba guru atau kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih sehat. "Melalui pembinaan berkelanjutan, evaluasi objektif serta kolaborasi antar pendidik, program ini diproyeksikan menjadi model berkelanjutan dalam mengurangi ATS," terangnya.

Lebih lanjut Husnul menegaskan bahwa Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Dringu berkomitmen untuk terus mengawal program ini agar memberikan manfaat nyata, baik bagi murid, guru maupun masyarakat.

"Dengan hadirnya Duta 8 Paru, diharapkan angka ATS di Kecamatan Dringu dapat ditekan secara signifikan dan menjadi bagian dari upaya membangun generasi emas di Kabupaten Probolinggo," pungkasnya. (mel/fas)