Dringu, Lensaupdate.com - Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo menggelar sosialisasi dan Training of Trainer (ToT) Bagi Perangkat Daerah Pendamping Desa Wisata Sejahtera, Amanah-Religius dan Eksis Berdaya Saing (DEWI SAE) di ruang PRIC Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Probolinggo, Jum’at (15/8/2025).
Kegiatan ToT menghadirkan narasumber dari East Java Ecotourism Forum (EJEF) dengan materi diantaranya siklus bisnis wisata, peran fasilitator dalam pendampingan desa wisata, profiling desa – identifikasi atribut penting, pemahaman produk wisata dan pasar, strategi penguatan kapasitas kelembagaan serta strategi pendampingan 35 desa wisata.
Dalam kegiatan ini ditampilkan best practice dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek tentang program pembentukan 100 Desa Wisata yang telah dilaksanakan di Kabupaten Trenggalek.
Sosialisasi dan ToT ini diwarnai dengan penandatanganan komitmen bersama Kepala OPD dalam mendukung program DEWI SAE. Penandatanganan komitmen bersama ini diawali oleh Sekda Ugas.
Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi menyampaikan kegiatan ini dimaksudkan menyatukan komitmen dan persepsi dalam pengembangan Desa Wisata melalui sinergi antar Perangkat Daerah pendamping Desa Wisata dengan peningkatan kapasitas agar mampu memberikan pendampingan yang efektif dan tepat sasaran sehingga dapat mendorong terwujudnya desa wisata yang berdaya saing, mandiri dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Tujuannya membekali OPD pendamping dengan pengetahuan untuk mendukung pengembangan desa wisata, menyatukan pemahaman antar OPD mengenai konsep desa wisata serta strategi pengembangannya, mendorong koordinasi dan kolaborasi antar OPD agar pendampingan desa wisata berjalan terpadu dan saling mendukung serta menjadikan ToT sebagai langkah strategis dalam mempercepat pencapaian target program pengembangan 100 desa wisata Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Heri menerangkan OPD pendamping memiliki pengetahuan dan strategi pendampingan desa wisata serta terwujud persepsi yang sama antar OPD terkait konsep pengembangan desa wisata.
“Selain itu, terwujud sinergi antara OPD pendamping dan Pokdarwis dalam pengembangan desa wisata. Terbentuknya jejaring kerja dan sinergi lintas OPD untuk mendukung Program 100 Desa Wisata Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.
Menurut DEWI SAE merupakan program pengembangan desa wisata untuk mewujudkan 100 Desa Wisata yang tidak hanya mandiri tetapi juga memiliki identitas berbasis religi, budaya dan ekonomi kreatif. Dewi SAE mendapatkan pengembangan menyeluruh antara lain penguatan infrastruktur, dukungan promosi, pelatihan SDM pengelola hingga penciptaan inovasi produk khas.
DEWI SAE diharapkan dapat menjadi salah satu pion cita-cita mewujudkan Kabupaten Probolinggo sebagai Gerbang Pariwisata Jawa Timur. Pengembangan 100 Desa Wisata dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan terbagi menjadi 3 tahapan. Dimana tahun ini akan dilaksanakan terhadap 36 Desa Wisata yang telah ditentukan,” tambahnya.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan Kabupaten Probolinggo memiliki potensi alam, budaya dan tradisi yang luar biasa. Dengan posisi strategis di jalur lintas utama Jawa Timur, pihaknya memiliki harapan besar bahwa Kabupaten Probolinggo dapat menjadi gerbang wisata Jawa Timur.
“Tidak hanya menjadi pintu masuk bagi wisatawan, tetapi juga menjadi destinasi yang berkesan, yang membuat mereka ingin kembali dan mengajak lebih banyak orang untuk datang,” katanya.
Hanya saja Sekda Ugas menyadari bahwa tantangannya tidaklah kecil. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi. Untuk menuntaskannya, dibutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan dalam mendorong pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.
“Salah satu jalannya adalah melalui pengembangan pariwisata berbasis desa, yang kita jalankan melalui program DEWI SAE atau Desa Wisata Sejahtera, Amanah-Religius dan Eksis Berdaya Saing,” jelasnya.
Menurut Sekda Ugas, sejak DEWI SAE dilaunching, pihaknya sudah menapaki langkah strategis untuk mewujudkan 100 desa wisata yang bukan hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga memiliki identitas kuat yang berakar pada nilainilai religi, budaya lokal dan kreativitas ekonomi masyarakat.
“Inilah yang akan menjadi kekuatan dan pembeda desa wisata di Kabupaten Probolinggo. Dengan adanya tugas besar untuk mewujudkan 100 desa wisata tersebut, maka diperlukan sinergitas yang erat antar seluruh Perangkat Daerah. Kita harus saling bekerja sama, bahu membahu dan saling mendukung agar setiap program yang kita jalankan dapat memberikan hasil yang optimal dan berkelanjutan,” terangnya.
Sekda Ugas menegaskan tidak ada satupun OPD yang bisa bergerak sendiri, karena keberhasilan pengembangan desa wisata adalah hasil dari kolaborasi lintas sektor yang saling menguatkan.
“Oleh karena itu, kegiatan Training of Trainers (ToT) bagi OPD Pendamping Desa Wisata hari ini menjadi sangat penting. Kita ingin memastikan bahwa para pendamping memiliki pemahaman yang sama, kompetensi yang mumpuni serta semangat yang selaras untuk membimbing desa wisata menuju kemandirian dan daya saing,” tegasnya.
Lebih lanjut Sekda Ugas menerangkan pembangunan desa wisata tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor, dukungan program dan komitmen seluruh Perangkat Daerah. “Mari kita sinergikan potensi dan sumber daya demi kemajuan desa wisata. Dengan kolaborasi yang kuat, desa wisata di Kabupaten Probolinggo akan menjadi sumber ekonomi, pelestarian budaya dan kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Sekda Ugas meminta apabila ada program dari Perangkat Daerah yang sejalan dengan kegiatan ini, mari untuk bisa dipadukan dan diwujudkan bersama. “Melalui kegiatan ini, saya mengajak kita semua menjadikan DWI SAE sebagai gerakan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan Kabupaten Probolinggo sebagai destinasi unggulan sekaligus gerbang wisata Jawa Timur,” pungkasnya. (nab/zid)
