Wonomerto, Lensaupdate.com - Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap beberapa Tempat Pemotongan Hewan (TPH) sapi di Kecamatan Wonomerto, Kamis (31/7/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kelayakan serta standar higiene sanitasi TPH sapi yang ada di wilayah tersebut.
Pengawasan dilakukan langsung oleh Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto bersama dengan Medik Veteriner Muda drh. Machrus dan Pengawas Higiene Sanitasi drh. Peni.
Dalam kegiatan tersebut, ada tiga TPH sapi yang dipantau oleh Diperta. Yakni, TPH milik Rahman dan Hj. Darsum di Desa Kedungsupit serta Buamin di Desa Pohsangit Lor. Pengawasan ini tidak hanya mencakup aspek kebersihan, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas tersebut memenuhi standar kelayakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kepala Diperta Kabupaten Probolinggo Arif Kurniadi melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan TPH milik Rahman telah melewati audit NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dari Provinsi Jawa Timur.
“Namun, mengingat kondisi ekonomi yang kurang mendukung, keberlanjutan pencukupan NKV untuk sementara ditunda. Selain itu, aktivitas pemotongan sapi di TPH ini juga terhenti karena situasi yang tidak memungkinkan,” katanya.
Sementara TPH milik Hj. Darsum belum diaudit oleh NKV Provinsi Jawa Timur karena fasilitas yang ada belum memenuhi standar kelayakan. “Rencananya, tahun ini akan ada pembangunan ulang TPH yang lebih baik untuk menggantikan fasilitas lama, meskipun pembangunan tersebut masih dalam tahap perencanaan,” lanjutnya.
Di tempat lain jelas Niko, di TPH milik Buamin Diperta melakukan checklist kelayakan dasar NKV. Hasilnya menunjukkan hampir seluruh 37 item yang dipersyaratkan oleh pemerintah pusat belum dipenuhi dengan baik. “Hal ini menjadi perhatian serius karena kelayakan tempat pemotongan hewan sangat penting dalam menjaga kualitas daging yang akan dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.
Niko menyampaikan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas tempat pemotongan hewan yang ada di Kabupaten Probolinggo, sehingga dapat naik kelas dan memenuhi standar nasional.
“Kami berharap setiap pelaku usaha yang mendirikan tempat pemotongan hewan dapat mengikuti aturan yang berlaku, terutama terkait dengan kebersihan dan sarana prasarana. Kami juga terus mendorong untuk adanya perbaikan agar usaha ini bisa berkembang lebih baik,” tambahnya.
Namun, para pemilik tempat pemotongan hewan mengungkapkan tantangan yang mereka hadapi, terutama dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Mereka menyebutkan bahwa permintaan untuk penyembelihan sapi saat ini menurun drastis yang turut mempengaruhi kelangsungan usaha mereka.
“Ke depannya, kami berencana untuk memberikan pelatihan dan pembinaan lebih lanjut kepada para pelaku usaha TPH agar mereka dapat memenuhi standar kelayakan yang lebih ketat, dengan harapan bisa meningkatkan kualitas usaha mereka,” pungkasnya. (mel/fas)