MUI Kabupaten Probolinggo Tetapkan Program Prioritas 2025–2030, Perkuat Islam Wasathiyah dan Respons Cepat Isu Keumatan


Kraksaan, Lensaupdate.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo menetapkan sejumlah program prioritas untuk masa khidmat 2025–2030 dalam rangka mendukung program SAE Sosial. Fokus utama diarahkan pada penguatan moderasi beragama, peningkatan literasi digital hingga respons cepat terhadap isu-isu keumatan dan kebangsaan.

Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo KH. Abdul Wasik Hannan menegaskan program prioritas tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga kondusivitas daerah sekaligus memperkuat peran ulama dalam membimbing umat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Pada masa khidmat 2025–2030 ini, kami berkomitmen untuk menangkal radikalisme, ekstremisme serta aliran-aliran menyimpang yang dapat merusak akidah dan persatuan umat. Ini menjadi tanggung jawab moral dan keagamaan kami,” katanya.

Menurut Kiai Wasik, penguatan Islam wasathiyah atau Islam yang moderat, seimbang dan toleran menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Kabupaten Probolinggo. MUI akan terus mendorong edukasi umat tentang manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pedoman dalam beragama.

“Kami ingin menghadirkan pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang sejuk dan menenangkan. Edukasi tentang manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi prioritas agar umat memiliki landasan yang kuat dalam beragama,” jelasnya.

Tak hanya itu, MUI Kabupaten Probolinggo juga akan memperkuat dakwah melalui media sosial, podcast, YouTube dan berbagai platform digital. Konten-konten keislaman yang disajikan harus bersifat ilmiah, menyejukkan serta mudah dipahami masyarakat luas.

“Era digital menuntut para da’i dan da’iyah untuk adaptif. Karena itu, kami juga menyiapkan program literasi digital agar para pendakwah mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif,” terangnya.

Selain penguatan dakwah digital, MUI juga menegaskan komitmennya untuk respons cepat terhadap berbagai isu keumatan dan kebangsaan yang berkembang di tengah masyarakat. "Sikap dan pandangan MUI diharapkan mampu menjadi penyejuk sekaligus penuntun umat," lanjutnya.

Kiai Wasik menambahkan, harmonisasi antara fiqh klasik (turats) dengan realitas modern juga menjadi perhatian penting dalam program kerja mendatang. Hal ini dilakukan agar ajaran Islam tetap relevan tanpa meninggalkan khazanah keilmuan para ulama terdahulu.

“Kami berupaya mengharmonisasikan fiqh klasik dengan realitas modern, sehingga nilai-nilai Islam tetap kontekstual dan mampu menjawab persoalan kekinian tanpa tercerabut dari akar tradisi keilmuan,” tandasnya.

Ia pun berharap seluruh program prioritas tersebut mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan dapat direalisasikan secara optimal demi kemaslahatan bersama.

“Kami mohon doa dan dukungan semua pihak. Semoga mimpi-mimpi besar ini dapat terwujud dan membawa kebaikan bagi umat serta Kabupaten Probolinggo yang lebih religius, harmonis dan berkemajuan,” pungkasnya. (nab/zid)