Tongas, Lensaupdate.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular. Langkah konkret dilakukan dengan menggelar Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS) di RSUD Tongas dan RS Wonolangan Dringu pada Rabu (23/7/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan pengendalian penyakit menular, khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti Acute Flaccid Paralysis (AFP) dan campak.
Dalam kesempatan tersebut Dinkes menurunkan tim khusus yang terdiri dari analis epidemiologi, petugas surveilans dan imunisasi untuk memastikan sistem pelaporan dan deteksi penyakit berjalan optimal di tingkat rumah sakit.
Selama proses surveilans, tim melakukan audit terhadap pencatatan dan pelaporan kasus AFP dan campak selama enam bulan terakhir. Tak hanya itu, dilakukan juga wawancara dengan tenaga medis di instalasi gawat darurat (IGD), ruang rawat inap anak dan bagian neurologi guna menggali informasi terkait kemungkinan gejala penyakit yang belum dilaporkan.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Nina Kartika mengatakan kegiatan ini krusial sebagai langkah deteksi dini penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah. SARS merupakan metode pemantauan aktif yang tidak hanya mengandalkan laporan pasif dari fasilitas kesehatan, tetapi juga melibatkan pencarian langsung terhadap kemungkinan kasus.
“SARS adalah bagian penting dari sistem kewaspadaan dini kita. Ini bukan hanya pengumpulan data, tapi juga langkah cepat agar respons penanganan penyakit bisa segera dilakukan,” katanya.
Nina juga menyoroti kasus polio yang kembali muncul di beberapa daerah Indonesia, terutama setelah pandemi Covid-19 menyebabkan terganggunya program imunisasi dasar pada anak. Padahal sejak 2014, Indonesia telah dinyatakan bebas polio oleh WHO.
“Kami sangat menekankan pentingnya pelaporan tepat waktu dari rumah sakit. Kegiatan seperti ini memperkuat kolaborasi antara Dinkes dan rumah sakit dalam melindungi masyarakat dari potensi KLB,” lanjutnya.
Kegiatan SARS tidak hanya fokus pada deteksi penyakit, tetapi juga mengevaluasi rantai pelaporan internal dan koordinasi eksternal antar instansi kesehatan. Tujuannya mempercepat proses respons bila ditemukan potensi wabah. Dengan sistem yang lebih tanggap dan terstruktur, diharapkan kasus-kasus PD3I seperti AFP dan campak bisa dikendalikan sebelum menyebar luas.
“Kami berharap kegiatan ini mendorong rumah sakit untuk lebih proaktif dalam pelaporan kasus dan menjadi garda terdepan dalam mendeteksi penyakit menular yang bisa dicegah sejak dini,” pungkasnya. (mel/fas)