Sinergi Dinkes Kabupaten Probolinggo dan Mahasiswa UINSA Tekan Stunting di Desa Gunung Geni


Banyuanyar, Lensaupdate.com - Dalam upaya memperkuat pencegahan stunting di tingkat desa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo berpartisipasi dalam kegiatan peningkatan kapasitas kader dan sosialisasi stunting di Balai Desa Gunung Geni Kecamatan Banyuanyar, Senin (14/7/2025).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dan sinergi antar Dinkes Kabupaten Probolinggo dengan mahasiswa kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 43 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Peningkatan kapasitas kader dan sosialisasi stunting ini diikuti oleh berbagai unsur desa, mulai dari kader kesehatan Desa Gunung Geni, Kepala Desa Gunung Geni, Ketua TP PKK Desa Gunung Geni  hingga staf Kantor Desa Gunung Geni. 

Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata dari sinergi antara akademisi, pemerintah desa dan tenaga kesehatan dalam menanggulangi permasalahan stunting yang masih menjadi tantangan serius di beberapa wilayah Kabupaten Probolinggo.

Dalam kegiatan ini, Dinkes Kabupaten Probolinggo hadir sebagai narasumber utama untuk memberikan edukasi seputar pencegahan stunting serta memperkuat peran kader kesehatan sebagai ujung tombak di lapangan.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Sri Wahyu Utami menyampaikan pentingnya keterlibatan aktif para kader dalam mendeteksi dan mendampingi keluarga berisiko stunting. 

“Kader adalah garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka memiliki peran kunci dalam melakukan edukasi, pemantauan gizi balita dan menghubungkan masyarakat dengan layanan kesehatan,” ujarnya.

Wahyu mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN UINSA yang telah membantu memfasilitasi kegiatan edukatif ini. “Sinergi seperti ini sangat kami harapkan karena penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Butuh kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan perubahan yang nyata,” tambahnya.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta diberikan informasi mendalam tentang penyebab dan dampak stunting, termasuk pentingnya 1000 hari pertama kehidupan (HPK), pemberian ASI eksklusif, pola makan sehat dan pemantauan tumbuh kembang anak.

“Para kader dilatih untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal stunting serta melakukan pendampingan secara konsisten kepada keluarga yang memiliki anak balita. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan cakupan pencegahan dini dan intervensi gizi secara efektif,” terangnya.

Dengan pendekatan berbasis komunitas dan sinergi lintas sektor, Wahyu berharap kasus stunting di desa-desa seperti Desa Gunung Geni dapat ditekan secara signifikan. “Kami optimis, dengan pelibatan aktif semua pihak, khususnya kader, angka stunting bisa terus turun,” pungkasnya. (mel/fas)