Banyuanyar, Lensaupdate.com - Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Probolinggo terus menunjukkan komitmen kuat dalam menangani masalah stunting melalui program intervensi pangan bergizi. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah evaluasi intervensi kewaspadaan pangan dan gizi di Kantor Kecamatan Banyuanyar pada Selasa (8/7/2025) siang.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program pemberian bantuan beras fortifikasi jenis Fortivit kepada kelompok rentan stunting yang diluncurkan pada akhir April 2025 lalu.
Evaluasi ini dihadiri oleh Kepala DKP Kabupaten Probolinggo Yahyadi, Kepala Bidang Penanganan Kerawanan Pangan DKP Kabupaten Probolinggo Nurul Komaril Asri, perwakilan Kecamatan Banyuanyar serta Kepala Puskesmas Ariska Banyuanyar dan Kepala Puskesmas Klenang Kidul Muhamad Iskhak bersama para ahli gizi puskesmas.
Program beras fortifikasi sendiri menyasar 483 penerima manfaat terdiri dari 372 ibu hamil (bumil) dan 111 balita di bawah dua tahun (baduta) yang memiliki risiko tinggi mengalami stunting. Masing-masing penerima mendapatkan bantuan sebanyak 20 kilogram beras selama dua bulan.
Beras Fortivit sendiri telah diperkaya dengan mikronutrien penting seperti zat besi, asam folat, zinc dan vitamin B kompleks. Mikronutrien ini berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang janin serta mencegah kelahiran dengan berat badan rendah (BBLR), yang menjadi salah satu penyebab utama stunting.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Probolinggo Yahyadi menyampaikan optimisme tinggi terhadap keberhasilan program intervensi kewaspadaan pangan dan gizi dalam menurunkan angka stunting di wilayah Kecamatan Banyuanyar.
“Program intervensi ini merupakan bagian dari 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo. Fokus utamanya adalah pemberian beras fortifikasi kepada ibu hamil (bumil) dan balita di bawah dua tahun (baduta) yang berisiko tinggi mengalami stunting. Total 483 penerima manfaat menerima bantuan yang terdiri dari 372 bumil dan 111 baduta,” katanya.
Menurut Yahyadi, dalam evaluasi bersama lintas sektor yang melibatkan DKP, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Puskesmas (Banyuanyar dan Klenang Kidul) dan Kecamatan Banyuanyar, efek dari bantuan beras fortifikasi sudah terlihat signifikan.
“Alhamdulillah, meskipun beberapa ibu tergolong KEK (Kekurangan Energi Kronis), bayi yang dilahirkan tetap sehat dan memiliki berat badan normal. Ini sudah menunjukkan dampak positif dari intervensi kita,” jelasnya.
Yahyadi menekankan meskipun durasi program baru berjalan dua bulan, hasil awal menunjukkan bahwa strategi ini tepat sasaran. Ia meyakini jika durasinya diperpanjang, Kabupaten Probolinggo bisa mencapai target nol stunting pada tahun 2026.
“Kalau durasi intervensi ini diperpanjang lebih dari dua bulan, saya yakin Insya Allah tidak akan ada lagi stunting di Kabupaten Probolinggo. Ini sudah terbukti secara kasat mata, tinggal kita perkuat data dan validasinya bersama Dinkes dan DP3AP2KB,” tegasnya.
Lebih lanjut Yahyadi mendorong agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain turut mengarahkan program intervensi ke kelompok bumil dan baduta, karena dua kelompok ini merupakan indikator utama keberhasilan pencegahan stunting.
“Kita harus satu arah. Kalau semua OPD intervensinya ke bumil dan baduta, hasilnya akan jauh lebih besar. Karena dari sinilah potensi stunting bisa dicegah sejak dini,” pungkasnya. (ren/zid)