Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Gelar Rembuk Pendidikan di SMPN 4 Pakuniran Satu Atap


Pakuniran, Lensaupdate.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menghadiri kegiatan rembuk pendidikan yang digelar di SMP Negeri 4 Pakuniran Satu Atap Kecamatan Pakuniran, Rabu (4/2/2026). 

Kegiatan ini membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari rencana rehabilitasi atap dan plafon ruang kelas serta kantor, konsultasi status tanah sekolah, rencana pendirian Taman Kanak-kanak (TK) hingga pembinaan dan pemenuhan tenaga pendidik serta kependidikan.

Rembuk pendidikan tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono, Sekretaris Disdikdaya Yunita Nur Laili, para kepala bidang serta Kasi Sarana dan Prasarana Disdikdaya Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini juga diikuti oleh Kepala Desa Blimbing, para kepala sekolah serta dewan guru SD dan SMP di wilayah setempat.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran Disdikdaya melakukan peninjauan langsung ke ruang kantor guru dan kepala sekolah, ruang belajar serta melakukan survei kondisi lingkungan sekolah guna melihat secara riil kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.

Kepala SMPN 4 Pakuniran Satu Atap Abdul Latif Ansori memaparkan kondisi sekolah yang berada di wilayah terpencil, tepatnya di kawasan perbukitan Desa Blimbing, ujung timur Kabupaten Probolinggo. Secara geografis, lokasi sekolah dinilai cukup menantang dan masuk kategori daerah terpencil.

“SMPN 4 Pakuniran Satu Atap berada di perbukitan Desa Blimbing, wilayah terpencil yang terbukti dengan adanya bantuan khusus bagi guru yang mengajar di daerah terpencil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dari sisi sumber daya manusia, sekolah masih memiliki keterbatasan. Saat ini terdapat tujuh tenaga pendidik dan satu tenaga kependidikan, seluruhnya berstatus PPPK serta satu kepala sekolah definitif. Namun, tenaga kependidikan yang ada merupakan PPPK paruh waktu dan telah memasuki masa purna pada bulan ini.

“Total pendidik dan tenaga kependidikan kami sembilan orang, namun tenaga kependidikan paruh waktu bulan ini sudah purna, sehingga ke depan kami membutuhkan penguatan SDM,” jelasnya.

Jumlah peserta didik di SMPN 4 Pakuniran Satu Atap juga masih relatif sedikit. Berdasarkan data penerimaan BOS, jumlah siswa tercatat sebanyak 24 orang. Selain itu, status tanah sekolah masih berupa hibah tertulis tangan, sehingga secara legal memerlukan penguatan ke depan. “Status tanah sekolah kami masih hibah dalam bentuk tulisan tangan, sehingga memang perlu penguatan legalitas,” terangnya.

Dari sisi sarana prasarana, Abdul Latif menyoroti keterbatasan akses internet dan listrik. Jaringan internet masih mengandalkan sistem tembak sinyal, sedangkan daya listrik meski sudah teraliri PLN masih rendah dan sedang dalam proses peningkatan.

“Dalam bidang pembelajaran, sekolah menerapkan enam hari kerja dengan penguatan pendidikan karakter melalui pembiasaan keagamaan, seperti pembacaan Asmaul Husna, surat-surat pendek, sholat duha hingga sholat berjamaah Dhuhur,” tambahnya.

Sementara Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menyampaikan apresiasi kepada para guru yang tetap menunjukkan dedikasi tinggi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan di wilayah terpencil.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru yang tetap bersemangat mengajar meski dengan keterbatasan sarana dan kondisi geografis yang tidak mudah,” katanya.

Hary juga mengapresiasi inovasi sekolah berbasis potensi lokal, seperti pengolahan kopi sehat dan madu lamparan serta mendorong agar produk tersebut diurus legalitasnya agar memiliki nilai ekonomi. “Inovasi lokal ini patut dikembangkan dan bisa menjadi nilai tambah bagi sekolah dan masyarakat,” jelasnya.

Terkait sarana prasarana dan status tanah sekolah, Hary menegaskan Disdikdaya akan mengawal secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah, termasuk mendorong pemanfaatan lahan sekolah sebagai laboratorium alam dan rencana pendirian TK satu hamparan. “Kami akan terus mengawal kebutuhan sekolah, termasuk pemenuhan guru dan penataan sarana prasarana, agar layanan pendidikan tetap berjalan optimal,” pungkasnya. (ren/zid)