Baznas Kabupaten Probolinggo Seleksi Ketat Mahasiswa Penerima Program SKSS 2026


KRAKSAAN – Kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi masih menjadi impian bagi banyak anak dari keluarga kurang mampu. Untuk memastikan bantuan benar-benar diterima mereka yang berhak, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo menerapkan proses seleksi yang ketat dalam Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) Tahun 2026.

Dari 37 proposal yang diajukan calon mahasiswa, hanya 19 orang dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan utama sebagai penerima Program SKSS. Sementara lima calon lainnya ditetapkan sebagai penerima bantuan kategori insidental setelah melalui proses verifikasi lapangan. Total 24 calon penerima kemudian mengikuti sosialisasi yang digelar di ruang pertemuan Amanah Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan, Kamis (6/8/2026).

Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Muzammil menegaskan bahwa proses seleksi tidak hanya mengandalkan kelengkapan administrasi. Seluruh calon penerima menjalani survei lapangan guna memastikan kondisi ekonomi keluarga sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan Baznas.

Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar dana zakat benar-benar tersalurkan kepada mahasiswa yang membutuhkan dan memiliki semangat tinggi untuk menyelesaikan pendidikan.

"Dari 37 proposal yang masuk, seluruhnya kami identifikasi dan disurvei berdasarkan kriteria baku Baznas. Hasilnya, 19 orang memenuhi syarat sebagai penerima Program SKSS. Sedangkan lima lainnya kami masukkan kategori bantuan insidental sehingga total ada 24 calon yang kami undang untuk mengikuti sosialisasi," ujarnya.

Muzammil menjelaskan, kondisi ekonomi keluarga menjadi faktor utama dalam proses penilaian. Tim survei menggunakan instrumen khusus untuk mengukur kemampuan finansial orang tua, kondisi tempat tinggal, hingga tingkat kebutuhan calon penerima bantuan.

Langkah tersebut dilakukan agar program benar-benar tepat sasaran dan mampu memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari keluarga dhuafa untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

"Sisi ekonomi menjadi pertimbangan paling dominan. Kami ingin memastikan bantuan zakat benar-benar diterima mahasiswa dari keluarga dhuafa yang memiliki semangat melanjutkan pendidikan, tetapi terkendala biaya kuliah," jelasnya.

Melalui Program SKSS, Baznas Kabupaten Probolinggo memberikan bantuan biaya pendidikan maksimal Rp2 juta setiap semester. Bantuan tersebut disalurkan sesuai kebutuhan mahasiswa pada setiap jenjang perkuliahan.

Apabila biaya kuliah melebihi nilai bantuan yang diberikan, selisihnya menjadi tanggung jawab mahasiswa maupun keluarganya.

"Apabila biaya kuliah melebihi nominal tersebut, kekurangannya menjadi tanggung jawab mahasiswa atau keluarganya," terang Muzammil.

Ia menambahkan, bantuan diberikan mulai mahasiswa semester satu hingga semester tujuh. Khusus mahasiswa semester tujuh, dukungan pembiayaan diberikan selama satu tahun agar mereka dapat menyelesaikan studi tanpa terkendala biaya.

Tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, Baznas juga menanamkan komitmen kepada seluruh penerima agar menjaga prestasi akademik serta menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dalam sosialisasi tersebut, para mahasiswa diberikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban yang harus dipatuhi, termasuk penandatanganan pakta integritas.

"Kami meminta seluruh penerima benar-benar serius menjalani perkuliahan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus tepat waktu. Kalau ada keterlambatan yang tidak sesuai komitmen, tentu akan kami evaluasi berdasarkan perjanjian dan pakta integritas yang sudah disepakati," tegasnya.

Bagi Baznas Kabupaten Probolinggo, Program SKSS bukan sekadar bantuan biaya kuliah. Program ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus menjadi salah satu strategi memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Menurut Muzammil, semakin banyak anak dari keluarga dhuafa yang berhasil menjadi sarjana, semakin besar peluang mereka meningkatkan taraf hidup keluarga sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

"Harapan kami, program ini mampu meningkatkan indeks pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sarjana, meningkatkan harkat dan martabat keluarganya. Kami yakin kemiskinan dapat diurai melalui pendidikan, meskipun hasilnya memang membutuhkan proses jangka panjang," pungkasnya.

Melalui seleksi yang transparan dan berbasis survei lapangan, Baznas Kabupaten Probolinggo berharap Program SKSS terus melahirkan generasi muda berprestasi yang mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Pendidikan diyakini menjadi jalan paling efektif untuk membuka peluang masa depan yang lebih baik sekaligus menciptakan keluarga yang lebih mandiri secara ekonomi. (nab/zid)