Kraksaan, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui Rapat Koordinasi Kesehatan Daerah (Rakorkesda) 2025, Rabu (17/12/2025) di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo. Forum ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor untuk mendorong pelayanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Oka Mahendra Jati Kusuma, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Probolinggo Ning Ayu Nofita Rahmawati, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H. Samsur, perwakilan Forkopimda, Ketua TP2D Kabupaten Probolinggo Khoirul Anwar serta Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo.
Acara ini diikuti oleh 350 peserta terdiri dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan Camat di lingkungan Pemkab Probolinggo, direktur rumah sakit, kepala puskesmas, organisasi profesi, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, rektor perguruan tinggi, Ketua PWI, Ketua Apdesi serta pimpinan perusahaan.
Sebagai bentuk penguatan kolaborasi lintas sektor, Rakorkesda ditandai dengan penandatanganan kerja sama skrining kesehatan calon pengantin. Kesepakatan ini ditandatangani oleh Fatayat NU Kabupaten Probolinggo, Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, Aisyiyah Kabupaten Probolinggo, Dispendukcapil, DP3AP2KB, DPMD, Dinkes, Kemenag dan mengetahui Bupati Probolinggo.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Haris bersama Ketua DPRD Oka Mahendra Jati Kusuma dan perwakilan Forkopimda melaunching beberapa inovasi kesehatan. Yakni, Si PERMATA BUNDA (Sistem Informasi Pemantauan dan Pendampingan Kesehatan Ibu dan Anak), SRIATIN BERSOLEK (Skrining Calon Pengantin Bebas Penyebab Resiko Kehamilan), JUMINTEN GO TO SCHOOL (Jum’at Minum Obat Tablet Tambah Darah untuk Anak Sekolah) dan ALADIN (Aplikasi Lapor Jentik Mandiri Terintegrasi).
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo menyampaikan sesuai tema rakorkesda 2025, transformasi layanan kesehatan mencakup pembenahan secara cepat, menyeluruh dan berani, baik di puskesmas maupun rumah sakit.
“Transformasi ini harus nyata. Pelayanan kesehatan harus ramah, mudah diakses dan benar-benar berpihak kepada masyarakat. Administrasi tidak boleh menyulitkan, masyarakat harus dilayani dengan baik dan bermartabat,” tegasnya.
Menurut Hariawan, sejumlah prioritas utama lima tahun ke depan, antara lain penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan stunting, pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menuntaskan persoalan kesehatan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Peran pemerintah desa, kader, PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan hingga media sangat kami butuhkan untuk mendukung promosi dan pencegahan kesehatan,” jelasnya.
Sementara Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris mengatakan pelayanan kesehatan yang ramah, inklusif dan berkualitas merupakan wajah utama pemerintahan daerah. Kesehatan merupakan fondasi utama pembangunan manusia dan menjadi indikator penting dalam peningkatan IPM.
“Kesehatan ini adalah pondasi utama kehidupan manusia. Kalau masyarakat sehat, ekonomi bergerak, pendidikan berjalan dan pelayanan publik bisa terpenuhi. Tapi kalau masyarakat tidak sehat, semuanya percuma,” katanya.
Bupati Haris mengungkapkan IPM Kabupaten Probolinggo yang sebelumnya berada di lima terbawah Jawa Timur, kini berhasil naik ke peringkat tujuh dengan laju kenaikan tertinggi se-Jawa Timur.
“IPM kita kemarin kelima terbawah, sekarang sudah naik ke peringkat tujuh. Kenaikannya memang sedikit, tapi laju kenaikan kita tertinggi di Jawa Timur. Ini patut kita syukuri dan terus kita jaga,” jelasnya.
Tidak lupa Bupati Haris memberikan perhatian khusus terhadap pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas. Ia meminta seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas menerapkan konsep ramah disabilitas.
“Saya titip betul, pelayanan kita harus ramah disabilitas. Rumah sakit, puskesmas, pelayanan publik, bahkan trotoar harus memikirkan akses bagi difabel. Kita harus sering berkumpul dengan saudara-saudara kita yang istimewa agar kita tahu makna bersyukur,” terangnya.
Bupati Haris juga menekankan puskesmas harus menjadi pusat pelayanan sekaligus pusat aktivitas masyarakat, bukan sekadar tempat berobat. “Saya ingin puskesmas itu tidak serem, tidak kaku. Tapi nyaman, bersih, ramah ibu dan anak, bahkan menjadi pusat kegiatan masyarakat. Orang datang ke puskesmas bukan hanya karena sakit, tapi juga untuk edukasi dan mencari kenyamanan,” ungkapnya.
Selain itu, Bupati Haris menegaskan berbagai persoalan kesehatan seperti stunting, kematian ibu dan bayi, HIV/AIDS serta demam berdarah masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang tidak bisa diselesaikan pemerintah saja.
“Masalah kesehatan ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh bupati atau Dinas Kesehatan. Ini kewajiban kita bersama. Peran tokoh agama, organisasi kemasyarakatan dan LSM sangat penting, terutama untuk edukasi sejak pra nikah,” lanjutnya.
Bupati Haris juga memastikan layanan dasar kesehatan tetap menjadi prioritas, termasuk pelayanan gratis di puskesmas dan ambulans bagi warga ber-KTP Kabupaten Probolinggo. “Pelayanan kesehatan itu amanah rakyat. Gratis harus benar-benar gratis, bukan hanya slogan. Puskesmas dan rumah sakit adalah wajah Kabupaten Probolinggo,” tambahnya.
Oleh karena itu, Bupati Haris mengajak seluruh pihak untuk menjaga integritas dan terus meningkatkan kualitas pelayanan publik. “Semua penghargaan tidak ada artinya kalau pelayanan di masyarakat nol. Prinsip utama kita adalah melayani. Kalau masyarakat sehat, baru kita bisa bicara pendidikan, ekonomi dan pembangunan,” pungkasnya. (nab/zid)
