Kerapan Sapeh Sakak, Warisan Budaya Lokal Warnai Akhir Tahun di Kabupaten Probolinggo


Sumberasih, Lensaupdate.com - Menjelang akhir tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama masyarakat Desa Jangur Kecamatan Sumberasih menggelar tradisi Kerapan Sapeh Sakak sebagai upaya pelestarian budaya lokal sekaligus ajang silaturahmi masyarakat.

Tradisi budaya Kerapan Sapeh Sakak atau kerapan sapi membajak sawah ini berlangsung pada Sabtu (27/12/2025) di lapangan Desa Jangur Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

Lomba Kerapan Sapeh Sakak tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Oka Mahendra Jatikusuma, Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Arh Iwan Hermaya serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

Kerapan Sapeh Sakak diikuti oleh 34 peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo. Para peserta dibagi dalam dua kategori, yakni Kelas A untuk sapi berukuran kecil dan Kelas B untuk sapi berukuran besar. Event ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi hiburan tersendiri, khususnya bagi warga Desa Jangur dan sekitarnya.

Selain perlombaan kerapan sapi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan lomba foto on the spot Kerapan Sapeh Sakak yang diikuti oleh para pegiat fotografi dari Kabupaten/Kota Probolinggo maupun dari luar daerah. Penilaian hasil karya dilakukan oleh dewan juri profesional, yakni Arbain Rambey, Yuyung Abdi dan Purwanto Rass.

Kerapan Sapeh Sakak memiliki makna yang serupa dengan Kerapan Sapeh Brujul. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam pelaksanaannya. Pada Kerapan Sapeh Sakak, sapi yang dikerap tidak diperbolehkan menggunakan penutup mata maupun kresek serta dilarang keras dilukai atau disakiti selama perlombaan berlangsung. 

Konsep ini menjadi daya tarik tersendiri karena mengedepankan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan hewan, sekaligus menyajikan tradisi yang unik dan menarik bagi masyarakat serta kalangan fotografer.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyampaikan Kerapan Sapeh Sakak merupakan kegiatan yang luar biasa dan memiliki nilai filosofis yang tinggi. “Event ini tidak hanya sekadar lomba, tetapi merupakan tradisi warisan budaya. Di dalamnya terdapat makna mengenang bagaimana para petani tempo dulu membangun kebahagiaan dan optimisme saat menanam padi. Semua itu dirayakan melalui Kerapan Sapeh Sakak,” ujarnya.

Menurut Bupati Haris, kegiatan ini juga menjadi refleksi bersama bahwa tradisi kerapan sapi tidak selalu identik dengan kekerasan. “Hari ini kita melihat konsep yang berbeda. Kerapan sapi sakak tidak memperbolehkan kekerasan terhadap sapi. Menyakiti sapi kerap sudah dilarang. Ini menjadi pesan penting bagi kita semua,” tegasnya.

Bupati Haris berharap Kerapan Sapeh Sakak dapat terus dilestarikan dan dilaksanakan secara berkelanjutan. “Semoga event ini bisa menjadi tradisi tahunan, mendorong berkembangnya UMKM serta mendukung sektor pariwisata. Ke depan, kami berharap Kerapan Sapeh Sakak dapat menjadi agenda resmi Kabupaten Probolinggo sesuai dengan konsep Culture and Sport Tourism yang harus kita jaga dan pertahankan bersama,” pungkasnya. (mel/fas)